Skip to content

A C A R A A G A M A H I N D U I

13 September 2010

MATERI PERKULIAHAN

A C A R A   A G A M A  H I N D U    I

Dosen pengajar  :   Dra. Nukning Sri Rahayu, M Si.

Tujuan kurikuler

Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki pengetahuan yang luas  dibidang  Acara Agama Hindu, baik yang terkait dengan masalah yajna, tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan, pandita-pinandita, sudi wadani, penyumpahan dan cuntaka, maupun yang berkaitan dengan ketrampilan dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama sehari-hari.

Garis Besar Pembahasan

Acara Agama Hindu I

  1. Pendahuluan
  2. Pengertian, peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu
  3. Pengertian, dasar, peranan dan tujuan Yajna
  4. Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna
  5. Panca Yajna dan Yajna Sesa

Pendahuluan

Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara,  upacara sebagai salah satu kerangka Agama Hindu . Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara, upacara keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran.

Pemahaman tentang acara dan upacara akan  meningkatkan usaha melaksanakan Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila  dan meningkatkan  keyakinan dalam beragama Hindu. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran, sikap dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri, masyarakat maupun kemanusiaan pada umumnya.

A C A R A    A G A M A   H I N D U

  1. Pengertian
  1. 1. Acara
  • Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama
  • Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun
  • Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan
  • Dresta   >  kuna, purwa, loka, sastra
  • Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat
  • Lembaga
  1. 2. Upacara

Upacara berasal dari kata upa  dan cara.  Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah  :

-           gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna.

-          Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya.

  1. 3. Upakara

Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya.

  1. Ruang lingkup Acara
  1. Kula acara :   adat kebiasaan dalam suatu keluarga
  2. Desa Acara :   Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis, kondisi social

ekonomi.

  1. Dharma acara :   kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma, juga  etika umum
  2. d. Jati acara

-          Kebiasaan dalam satu golongan, kelompok

-          Catur warna > pembagian berdasar profesi, pekerjaan, keahlian

Brahmana    >  kebijakan,pemikiran (pendeta, pendidik, guru, hakim, dokter dll.)

Ksatria          >   ketangkasan fisik ( tentara, polisi, hansip, satpam)

Waisya          >  keahlian bisnis  ( pedagang, pengusaha, petani, nelayan,

peternak)

Sudra            >  mengandalkan fisik (buruh, pekerja, pembantu rumah tangga)

  1. Wyawahara Acara :  hokum acara  > hokum Negara = yuris prodensi
  2. Sista Acara :  Kebiasaan yang sudah  tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi,

pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.

  1. Sumber Acara

Sumber Acara    >   sebagai sila

-   Agama      =   diambil dari kitab suci

-   Rta             =   hokum alam

Sumber Acara      >  sebagai  dharma

  1. 1. Kitab Weda Sruti  = berdasar pendengaran Mahareshi

-          Mantra  :  catur Veda (Rg. Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan Athrwa Veda)

-          Brahmana :  Aitareya, Satapatha, Tandya, Gopatha > Aitareya Araniyaka, Satapatha A, Tandya Araniyaka, Gopatha Araniyaka.

-          Upanisad :   Ulasan Catur Veda  > 92 bh, Upanisad Rg Veda 10 bh, Upanisad Sama Veda  10 bh, Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda, Upanisad Atharwa Veda 31 bh.

  1. 2. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi

-            Wedangga  > enam buah (Sad Wedangga)

  • Siksa  = cara pengucapan mantra yang benar
  • Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat
  • Chanda = lagu, irama, tembang tentang isi veda.
  • Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia
  • Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra = upacara besar, Grhya Sutra = berumah tangga, Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan, Sulwa Sutra = membuat bangunan, Silpasastra = asta bumi, kosala kosali.)

-           Upaveda  :   Itihasa, Purana, Artasastra, Ayurveda.

-          Agama      :  Agama Saiwa, Waisnawa, Saktisme

  1. 3. Acara  (Sadacara)  :  Kebiasaan, tingkah laku ;   peraturan tentang baik buruk;

Tidak bertentangan dengan harga diri.

  1. Sila : –  Tingkah laku yang baik dari orang suci; perbuatan yang

Menyenangkan  orang lain.

  1. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani ; kepuasan diri sendiri.
  2. Nibanda :  ditulis Mahareshi, Reshi, cendekiawan Hindu  seperti Sarasamuscaya, Purwamimamsa, Brahmasutra, Wedantasutra, Wahya.

Pengertian dharma  :

-          Satya  =  kebenaran, kejujuran

-          Rta     =  mengakui hokum alam

-          Tapa  =  pengendalian diri

-          Diksa  =  penyucian

-          Brahman =  Hyang Widhi

-          Yajna   =  pengorbanan

  1. Fungsi Acara

-          Tertib hokum dan moral

-          Jagadita  – kesejahteraan manusia

Catur Purushartha :   empat tujuan(jalan)  utama umat Hindu untuk mencapai bahagia

sejahtera

  1. Dharma =  kebajikan, pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran
  2. Artha =  kekayaan, materi, jer basuki mawa bea.
  3. Kama =  keinginan, kesenangan
  4. Moksa =  kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi.

Catur marga   :  Bakti marga       =  hormat taat tekun,

Karma  marga   =  kerja, aktif

Adjnana marga =  menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi

Yoga Marga       = disiplin, tekun

Panca dresta    :  lima adat kebiasaan

-          Sastra dresta  =  hokum tertulis

-          Desa dresta     =  peraturan desa

-          Purwa atau kuna dresta  =  kebiasaan yang dianut sejak dahulu

-          Loka dresta  =   adat istiadat setempat

-          Kula dresta  = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat.

Y  A  J  N  A

A.  Pengertian

Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja, mempersembahkan atau melakukan pengorbanan  Dari kata Yaj  kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata  yajus dan yajamana   :

*   Yajna artinya :

Secara niskala yang tidak nampak:

-  pengorbanan suci lahir batin, berkorban demi kebenaran (dharma)

-   system persembahyangan, kebaktian > upacara, upakara,  pemujaan, persembahan atau

korban suci

-   system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama

Secara sekala /yang nampak

–   pengorbanan suci  > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain)

-   menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan bhuana

alit, jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan)

-   Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna

*   Yajus artinya  aturan tentang yajna

*   Yajamana  artinya orang yang melaksanakan yajna

Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.

Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci  sebagai berikut ;

  1. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih

‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk                         (Bhagawadgita  III.10)

Artinya:

Sesungguhnya sejak dulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna, berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

  1. Satyam brhadrtamugram diksa, tapo brahma yadnya prthiwimdharayanti

(Atharwa Weda)

Artinya :

Sesungguhnya  satya,rta, diksa, tapa, brahma dan yadnya  yang menyangga dunia.

  1. Yajna ngaraning manghanaken homa                                                         (Wraspati Tattwa)

Artinya :  Yajna artinya mengadakan homa

  1. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya

(Agastya Parwa)

Artinya : Yajna artinya “Agnihotra”  yang utama yaotu pemujaan atau persembahan  kepada Sang Hyang Siwa Agni.

Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa, yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila), madu kayu cendana (sri wrksa)  mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.24-27. Jadi  pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu.  Dengan yajna itu menimbulkan hujan, dari hujan timbul makanan, dari makanan lahir mahkluk hidup. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.14), yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan.

Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.

Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata, walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.

Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna :

  • Karya  (adanya perbuatan)
  • Sreya (ketulus ihklasan)
  • Budhi (kesadaran)
  • Bhakti (persembahan)

Semua perbuatan yang berdasarkan dharma, dilakukan dengan tulus ihklas  disebut yajna seperti “

  1. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi
  2. Mengendalikan hawa nafsu
  3. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup
  4. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang susah dll.

Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.

Bhagawadgita III.9 menyebutkan :

setiap melakukan  pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.

Bhagawadgita III.12 menyebutkan

Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. Maka sebelum menikmati  makanan, kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan.

Atharwa Weda XII.I menyebutkan :

“Satyam behad rtam ugram, diksa tapa brahma yadnyah, prthiwim  dharayanti, sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam”

Artinya    :   Kebenaran (satya)  hokum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), tapa brata, doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini, ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.

Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan  bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Dengan kemantapan srada,  bhakti dan iman  yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini.

B.  Dasar dan peranan Yajna

Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda, Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna, dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia.

Rg Weda  X.10            : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.

Bhagawadgita III.11  : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan.

Bhagawadgita III.12  : Ia yang hanya suka dipel;ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri.

Manawa Dharmasatra, VI.35  : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet, ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah”

Artinya   :    Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan, kepada leluhur,  dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan  tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).

Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) :

  1. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
  2. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi
  3. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur

C.  TUJUAN  YAJNA

  1. Untuk mengamalkan ajaran Weda

Disebutkan  dalam kitab Rg Weda X.71.11 :

“Ream tvah posagste pupusvam

Goyatram tvo gayati savavarisu

Brahmatvo vadati jatavidyam

Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “

Artinya

Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda, seorang melakukan nyanyian-nyanyian pujian dalam Sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda, mengajarkan isi Weda, yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).

Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.

Bhagawadgita VII.16 menyebutkan :

“Chaturvidha bhayante mam

Janah sukrtino ,rjuna

Arto jijnasur artharthi

Jnani ca bharatasabha”

Artinya

Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku, wahai Bharatasabha, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.

Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati, untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara.

  1. Untuk meningkatkan diri

Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga  golongan yaitu

-           Tumbuh-tumbuhan yang memiliki  bayu (eka pramana)

-          Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana)

-          Manusia memiliki bayu, sabda dan idep (tri pramana)

Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna, dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power, kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia, dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.

Dalam kitab Sarasamucaya  81 disebutkan dalam terjemahannya sbb.:

Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya, banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan, terkadang penuh keragu-raguan, demikianlah kenyataanya, jika ada orang yang dapat  mengendalikan pikiran  pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain.

Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri , manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.

3. Penyucian

Berbagai  macam upacara atau  yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian.  Pedudusan, caru, tawur, prayascita, pelukatan  disamping sebagai  persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian.

Kitab Bhagawadgita  XIV.16 menyebutkan :

“Karmanah sukrtasyah ,huh

Satvikam nirmalam phalam

Rajasas tu phalam  duhkham

Ajnanam tamasah phalam”

Artinya :

Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala, sedangkan hasil rajasa adalah

dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan.

Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna, Sattwika, Rajasa dan Tamasa. Masing-masing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci, hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.  Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya.

Kitab Manawa Dharmasastra V . 109 menyebutkan

“Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti,

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti”

Artinya  :

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran ,  jiwa manusia dibersihkan

dengan  pelajaran suci  dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya  didasar  kesiapan dan kesucian rohani, jasmani suci, hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual

  1. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.

Yajna, upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya.  Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga.  Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna  yaitu :

  1. Sang Yajamana  adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna
  2. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten
  3. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).

Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.  Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna, pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ?

Kitab Rg Weda III .54.5 menyebutkan :

“Ko addha Veda ka iha pravocad,  Dewam accha pathyaaka sameti

Dadrsra esamavamak sadamsi, paresu ya guhyesu wratesu “

Artinya :

Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan

mengantar  bersama menuju Tuhan ?  Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja

dari sthana  Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi, diwilayah rahasia

Kitab Bhagawadgita VII.8  memberi petunjuk sbb. :

“Raso ‘ham apsu kaunteya,   prabha ‘smi  sasisuryayoh,

Pranavah sarvavedeshu,  sabdah  khe paurusham nrisu”

Artinya :

Aku adalah rasa dalam air,  Kunti putra, Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Aku adalah

huruf aum  dalam kitab suci Weda, Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia.

Tuhan berada dimana-mana, pada seluruh ciptaannya. Beliau diair, di bulan di matahari, huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air, cahaya bulan dan matahari, huruf-huruf kitab suci, getaran suara dan kemanusiaan  dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta.

  1. Untuk mencetuskan rasa terima kasih

Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri, dapat berterima kasih pada Tuhan.

Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :

Kitab Sarasamucaya I. 4.   menyebutkan

“Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe

Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih

Apan ikang dadi wwang uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya

Tinulung  awaknyasangkeng sangsara, makasadanang subhakarma hinganing

kotamamaningdadi wwang ika

Artinya  : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat  menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma  yang baik, demikianlah keistimewaan menjadi manusia.

Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu :

  1. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna.
  2. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna.
  3. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan, memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna.

Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung, pupuh, wirama, sloka, palawakya. Seni tabuh, seni tari dll ikut mendukungnya.

D.   Jenis-jenis dan bentuk-bentuk  yajna dalam kehidupan serta sarananya.

Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain :

  1. Persembahan menggunakan sarana  upakara ( sajen /banten)
  2. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri)
  3. Persembahan  dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas
  4. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).
  5. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.:

“ye yatha mam prapadyante, tams tathai ‘va bhayamy aham,

Mam vartma .nuvartante, manushyah partha sarvasah”

Artinya

Dengan jalam manapun (beryajna)   ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-terima,

dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha.

Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi :

  1. Nitya Yajna

Yajna yang dilaksanakan setiap hari

  1. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari, pagi sing dan sore
  2. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya, sebelum kita makan masakan itu.
  3. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan, pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar.  Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat, setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.
  1. Naimitika Yajna

Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb.:

  1. Dasar perhitungan wara seperti ;

-           eka wara       =  Luang

-          dwi wara        =  Menga, Pepet

-          tri wara          =  Pasah, Beteng, Kajeng

-          catur wara     =   Sri,  Laba,  Jaya,  Menala

-          panca wara    =   Pahing, Pon. Wage, Kliwon. Legi,

-          sapta wara     =  Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu,

Redite,  Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara,

Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa, untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan.

  1. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu :  Sinta, landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kulawu, Dukut, Watugunung.
  2. Perhitungan sasih : Purnama, Tilem, Siwaratri, Nyepi, Equinok(matahari diatas katulistiwa), Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan).
  1. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal, dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Sebagai contoh upacara melaspas, ngulapin orang jatuh, Sudi wadani dll.

Landasan pelaksanaan yajna

-          Prinsip   moral  berdasar  keyakinan (Panca Srada),  ketulusan, kesucian hati.

-          Pelaksanaan  upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat), kala ( waktu), dan patra (keadaan), hendaknya untuk menjamin kelancaran, keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya.

Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan :

-          Nista artinya yajna tingkatan kecil

-          Madya artinya  yajna tingkatan sedang

-          Utama artinya yajna tingkatan besar.

Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan :

-          Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra, mantra, kidung suci daksina dan srada

-          Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan.

-          Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha, lascarya, sastra agama, daksina, mantra,  gita annasewa dan nasmita.

Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII.ii,12.

Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah :

  1. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha).
  2. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang)
  3. Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci.
  4. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan bagi para tamu.
  5. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.
  1. Pokok Ajaran Panca Yajna

Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Panca Yajna  dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna), dalam hidup ini.

Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb :

  1. Kitab Satapatha Brahmana
    1. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta.
    2. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia
    3. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha
    4. Brahma Yajna  adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.
  2. Kitab Bhagawadgita IV.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb.:

“Dravya-Yajnas tapa-yajna, yoga-yajnas tathapare,

Svadhyaya, jnana yajnas ca yatayah samstia vratah

Artinya :

Ada  yang  mempersembahkan harta, ada tapa, ada yoga, dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat, mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.

Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.:

  1. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta benda
  2. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria
  3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa
  4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
  5. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi
  6. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca Yajna yaitu :
  • Manawa Dharmasastra  III.70

Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam”

Artinya

Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana, menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur, persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa, persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.

Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.:

  1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan.
  2. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur
  3. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa.
  4. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta
  5. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah.
  • Manawa Dharmasastra  I.74

“Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih

Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam

Artinya :

Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda, huta persembahyangan homa,

prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta,

Brahmahuta, yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah

menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah

persembahan terpana kepada para pitara.

Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb.:

  1. Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda
  2. Huta  adalah persembahan dengan api homa
  3. Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta
  4. Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana
  5. Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.
  • Manawa Dharmasastra III.81

“Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Pitrrn sraddhaisca

nrrnam nairbhutani balikarmana”

Artinya

Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap

Weda, kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar, kepada leluhur

dengan sradha, kepada manusia dengan pemberian makanan dan  kepada para

bhuta dengan upacara korban.

Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan :

  1. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci,sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda
  2. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa.
  3. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur
  4. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
  5. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.
  1. 4. Kitab Gautama Dharmasastra

Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb.:

  1. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya
  2. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah.
  3. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.
  4. 5. Lontar Korawa Srama

Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb.:

  1. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen, mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama
  2. Rsi Yajna adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan dan barang-barang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.
  3. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
  4. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur
  5. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.
  6. 6. Lontar Singhalanghyala

Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.:

  1. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan
  2. Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata
  3. Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci
  4. Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata, tapa dan Samadhi.
  5. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian
  6. 7. Lontar Agastya Parwa

Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia, mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb.:

  1. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.
  2. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci
  3. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam Siwa
  4. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.
  5. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana, karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita.

Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa), sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.

Pelaksanaan Yajna  harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian  umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 

PANCA YAJNA

Telah kita ketahui  Panca Yajna  karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna.

  1. A. Dewa yajna
    1. 1. Pengertian

Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya  dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci)

Wujud :   Niskala  >  upacara, upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa, Batara

Sekala  > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha)

  1. 2. Tujuan Dewa  Yajna
  2. Mengamalkan ajaran- ajaran  Weda
  3. Meningkatkan kualitas diri
  4. Untuk mensucikan diri
  5. Sarana berhubungan dengan Tuhan
  6. Untuk mencetuskan rasa terima kasih
  7. 3. Jenis  pelaksanaan Dewa Yajna
  8. a. Dengan memhaturkan  sajen (banten) dan melakukan persembahyangan

Perlu diperhatikan, yang penting dalam membuat sajen  dan harus ada dalam yajna :

-          Simbol Brahma  : Agni (dupa, kemenyan, ratus, lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan

-          Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi

-          Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa.

Bhagawadgita IX.26 menyebutkan :

“Patram, puspham, phalam toyam, yo me bhaktya praya chchati,

Tad aham bhaktyu pahritam, Asnami prayatatmanah”

Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai

Daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, aku terima

Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Setangkai daun, sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat

simbolik. Yang utama adalah hati suci, pikiran terpusatkan jiwa dalam

keseimbangan tertuju kepada Nya. Membuat banten sesuai dengan

kemampuan, tidak usah bermewah-mewah, jangan sampai menghaturkan

banten hatinya susah, marah, iri dengki dll.

  1. b. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna

Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan, kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman bunga, serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan, sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.

  1. c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra).

Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama, disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten, latihan tari, mekidung (nyekar dalam bhs. Jawa). Juga untuk latihan meditasi (raja yoga).

Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna

Tempat  :

di Pura, atau dirumah (kamar suci/ altar,  di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya.

Sarana    :

  1. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi
  2. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa, air, bunga bila ada buahbuahan,
  3. c. Ada  tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.

Pelaksanaan :

  1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing.
  2. Sulinggih/pendeta,pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput.
  3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian
  4. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara

-          Pemuput upacara duduk, asuci laksana, ngastawa genta, mohon pengaksama.

-           Nglinggihang/ngantep banten taksu

-          Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan

-          Nganteb banten Byakala, Durmenggala dan Prayascita untuk banten

-          Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa

-          Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”, puja “Sthiti”/Apadeku.

-          Menghaturkan banten, ngantep segehan dan pengaksama jagatnata

-          Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi.

-          Selama pemuput upacara memuja bhakti, umat menghaturkan kidung-kidung

-          Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas.

-          Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas.

-          Ngantukan Betara, Prelina Genta kemudian penutup.

Upacara yang termasuk Dewa Yajna  :

  1. 1. Hari Purnama dan Tilem
  2. 2. Hari berdasar pawukon

-           Sinta Soma Pon         =    Soma Ribek        >   Dewi Sri di lumbung

-          Sinta Anggara Wage =    Sabuh Mas          >   Dewsa Mahadewa

-          Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi           >   Sang Hyang Pramesti Guru

-          Landep Saniscara KliwonTumpek Landep >   Sang Hyang Pasupati

-                                                       Tumpek Uduh    >   Sang Hyang Sangaskara

-          Sungsang Wraspati Wage  = Sugihan Jawa >   Bhuana Agung

-          Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali         >   Bhuana Alit

-                                                         Penyekepan        >    Sang Kala Wisesa

-                                                           Penyajaan           >     Sang bhuta Galungan

-          Dungulan Anggara Wage = Penampahan      >    Sang Kala Tiganing Galungan

-          Dungulan Buda Kliwon  =  Hari  Galungan      >    Ista Dewata &  Dewa Pitara

-          Kuningan Redite Wage  =     Ulihan                  >    Dewa  &  Pitara kembali

-          Kuningan  Soma Kliwon = Pamacekan Agung  >  Sang Bhuta Galungan kembali

-          Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan     >    Dewa & Pitara turun kembali

-          Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang        >  Sang Rare Angon

-          Wayang Saninscara Kliwon   Tumpek Wayang      >     Sang Hyang Iswara

-          Klawu Buda Wage ,                                                     >     Buda Cemeng Klawu

-          Klawu  Sukra Kliwon                                                   >     Wedalan Dewi Sri

-          Watugunung Saniscara umanis Hari  Saraswati     >      Sang Hyang Aji Saraswati

-          Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh                          >    Mohon pengetahuan

  1. 3. Hari berdasarkan Pancawara :

-          Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah), Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar.

-           Anggara Kasih  >  Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat

-          Buda Cemeng   > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara Merta/kehidupan

  1. 4. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya), Gerhana Bulan Hyang Candra), panen (Dewi Sri), mendirikan bangunan suci, piodalan pura/merajan, kahyangan dll.

  1. B. PITRA  YAJNA
    1. 1. Pengertian

Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia.

Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh  leluhur yang sudah meninggal. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah, ibu) serta memperlakukan dengan baik.

Wujud Niskala : Upacara, upakara untuk para pitara, orang yang sudah meninggal

Sekala  : menghormati, tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan

sesudah meninggal

  1. 2. Dasar

Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya.

Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna

-          Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah, ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa, mulaimemberi makan, kesehatan, pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam)

  1. 3. Tujuan

-          Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal).

-          Bila orang tua sudah meninggal  Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah.

  1. 4. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna

-          Untuk orang tua yang masih hidup, titik beratnya pada susila, berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia, ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan, orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra.

-          Untuk orang tua yang sudah meninggal

Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan  agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi).

Tingkatan Pitra Yajna sbb.:

-          Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng.

-          Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan

-          Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah , abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

-          Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja.

-          Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi.

Pelaksanaan Pitra Yajna

  • Sawa Preteka :   Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas, dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur.
  • Sawa Wedana :  membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern), dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa), bunga tirtha. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara.
  • Atma Wedana :  Tempatnya dirumah, disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Kemudian diantar puja praline  Puspam Sarira  dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut.

Hembusan nafas terakhir

-           Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan  Puja Pralina sbb.:

Om      a  ta   sa   ba   I    wasi mana ya mang  ang  ong              atau

Murcahntu, swargantu, moksantu, angksama  sampurna ya namah

swaha

RESI YAJNA

  1. 1. Pengertian

Resi yajna  adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi,  para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.

Wujud Niskala : Upacara, upakara kependetaan

Sekala  : menghormati Sulinggih, Orang suci, belajar agama dll.

  1. 2. Tujuan

Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi, Sulinggih, Pedanda, Pendeta, Sri Empu, Pinandita, Wasi, Pemangku dll.

  1. 3. Cara melaksanakan Rsi Yajna
  • Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita, wasi, atau pemangku).
  • Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih).
  • Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih
  • Menghaturkan punia, Rsi Bojana (santapan)  kepada para Sulinggih
  • Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih
  • Membantu tugas para Sulinggih
  • Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih

Diksa artinya disucikan, sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali.

Syarat Calon Sulinggih

  1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari
  2. Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya)
  3. Pasangan suami istri
  4. Umur minimal 40 Tahun
  5. Paham bahasa kawi, Sanskerta, dan bahasa Indonesia, memiliki pengetahuan umum, mendalami intisari ajaran agama Hindu
  6. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana, berkelakuan  baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana
  7. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan
  8. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan.

Syarat-Syarat Nabe

  1. Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin
  2. Mampu melepaskan diri dari keduniawian
  3. Tenang dan bijaksana
  4. Paham dan mengerti Catur Weda, dan selalu berpedoman Kitab suci Weda
  5. Mampu membaca Sruti dan Smerti
  6. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

Langkah pelaksanaan upacara Diksa

  1. a. Upacara awal
  • Mejauman  >   berkunjung kegria nabe + upakaranya
  • Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu
  • Mapinton = asucilaksana > disegara, gunung dan merajan nabe
  1. b. Upacara Puncak.
  • Amati raga = penyekepan, melakukan yoga (monabrata dan upawasa)  sehari penuh sebelum mediksa.
  • Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa.
  1. c. Upacara pokok

-          Pedanda nabe memuja atau ngarga

-          Calon diksita melakukan upacara mebyakaon, muspa dan luhur apari sudana (ganti nama)

-          Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar.

-          Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe, digosok minyak kayu putih, diasapi 3 kali, digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun

-          Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen

-          Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya

MANUSA YAJNA

  1. 1. Pengertian

Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya.

Wujud :  Niskala >  upacara & upakara kemanusiaan

Sekala >  monolong & berkorban untuk kemansiaan

  1. 2. Tujuan

Untuk  memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.

Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia, manusia dapat hidup selamat, sejahtera, rukun, aman, damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin.

Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna  perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja, mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Pada umumnya orang yang jujur, berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau.

Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan :

Ad bhir gatrani  cudhayanti, manah satyena sudhayanti, widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti.

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.

  1. 3. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna
    1. a. Upacara mabyakala (mabyakaon)

Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon.

Upacara ini berupa pemberian korban, suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut, dan malah merestui.

Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah, waktu natap banten diarahkan  kearah belakang dan samping.

Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna.

  1. b. Upacara melukat/mejaya-jaya

Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil), eteh eteh padudusan alit (lebih besar), eteh-eteh padudusan agung (paling besar).

Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara, dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin.

  1. c. Upacara Natab (ngayab)

Upakaranya disebut  banten tataban (ayaban).

Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan  member restu. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.

Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatan-kekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti:

  1. Hati ditempati oleh Dewa Brahma
  2. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara
  3. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu,
  4. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.

Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.

  1. 4. Upacara muspa (bersembahyang)

Upacara ini dapat dilakukan  dua macam :

  1. setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru
  2. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha.
  3. 5. Jenis-jenis manusa Yajna

a.   Mengadakan upacara selamatan pada waktu :

-    Bayi dalam kandungan(3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, 7bulan, procotan)

-    Bayi baru lahir (nyambutin)

-    Bayi puput puser (kepus pungset)

-   Upacara ngelepas aon (12 hari)

-    Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan)

-    Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari)

-    Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan)

-   Tumbuh gigi, kemudian meketus.

-     Anak meningkat dewasa  (raja Sewala)

-    Upacara potong gigi (mesangih/mepandes, mepangur)

-     Mewinten

-   Upacara perkawinan (pawiwahan).

b.  Peningkatan kualitas kemanusiaan :  pendidikan , seni budaya, kesehatan,

moral/ budi pekerti dll.

c.  Peningkatan  jiwa sosial/ kemasyarakatan   : Menghormati dan menolong

sesama manusia, seperti ramah tamah pada orang lain, menjamu tamu

menghormati hak orang lain (bersikap toleran), menjamu tamu, memberi

sedekah dengan tulus ihklas.

BHUTA YAJNA

  1. Pengertian

Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau  semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Atau penyucian alam semesta beserta isinya

Upacaranya disebut mecaru, bantennya banten caru. Caru artinya mengharmoniskan.

Wujud : niskala   >  melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha Bhuta

Sekala   > menjaga, memelihara, melestarikan, mengharmoniskan jagat atau

alam semesta seisinya

  1. Tujuan

Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan, keselarasan, keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua makhluk.

  1. Cara pelaksanaan
  1. Dengan mengadakan korban (mecaru, mesegeh, tawur) dengan cara :
  • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak  ditungku, di sumber air dll (Yajna sesa.
  • Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata, Panca Kelut, Rsi Gana, Balik Sumpah, Tabuh Getuh, Tawur Agung, Panca Wali Krama (10 Th. Sekali), Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Sekali)
  1. b. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan  antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang, dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari  “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam, mencintai alam, tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih sayang.

PANCA MAHA YAJNA

Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna” yaitu :

  1. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten, sajen, harta benda, dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn, ini menjadi Panca Yajna.
  2. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita,meneguhkan iman, menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup. Contoh mengendalikan indria.
  3. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi  sebagai alat atau dana pengorbannanya. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi, Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab)
  4. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).
  5. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.

Bhagawad Gita VI. 33 menyebutkan  :

“ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir,  berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia, segala hidupnya diabadikan serta dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama; kehidupan serba damai karena ia sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”.

YAJNA SESA

  1. Pengertian

Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan  kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan.

Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam”

Dasar  Bhagawad Gita III.13  menyebutkan :

  • Yajna sishtasinah santo,

mucyante sarva kilbisaih,

bhunyate te tv  agham papa,

ye pacaanty atma karamat”

Artinya

  • Yang baik makan setelah bhakti, akan terlepas dari segala dosa,

Tetapi menyediakan makanan lezat hanya  bagi dirinya sendiri,

mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan, menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan , ngaturin kepada Tuhan terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan.

  1. Tujuan

Tujuan Yajna Sesa  adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita.

  1. Pelaksanaan

Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan, baru kemudian menikmati hidangan.

Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur.

Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur.

Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan  sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.  Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana, yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja, ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak, ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.

Tempat Yajna sesa :

-          Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk menifestasi  Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether

-          Ditungku dipersembahkan  untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma atau Dewa Agni

-          Ditempat air dipersembahkan  untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu sumber air

-          Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi Pertiwi

-          Ada juga yang member ditempat beras, dipintu pekarangan, ditempat menumbuk padi dll

Yajna Sesa memiliki makna  :

-          Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya

-          Belajar dan berlatih mengendalikan diri

-          Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan

-          Melatih  tidak mementingkan diri sendiri

Yajna Sesa  ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul perasaan  bahagia.  Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya oleh umat Hindu. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti).

Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu.

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: