Skip to content

ACARA AGAMA III

13 September 2010

ACARA AGAMA  III

BAB   I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang

Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya

Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar   yaitu  tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti adalah acara agama sebagai salah satu dari  kerangka dasar Agama Hindu tersebut.

Atharwa Weda  XXI.1.1  menyebutkan :

Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo

Brahma yajna prithivim dharayanti

Artinya    :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian

diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi

  1. B. Tujuan

Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana sesuai dengan ajaran agama.

Manusia  dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama Hindu yaitu  Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma.

C.   Standar Kompetensi

Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat

D.  Kompetensi Dasar

Untuk mewujudkan Standar kompeetensi  ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran agar  memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut    :

  1. Acara Agama
  2. Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama
  3. Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci
  4. Upakara /sarana upacara
  5. Panca yajna  dan Panca Maha Yajna
  6. Tempat Suci
  7. Pandita dan Pinandita
  8. Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka
  9. Hari Suci

BAB  II

A C A R A   A G A M A

A.   Pengertian

  1. 1. Acara
  • Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama
  • Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun
  • Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan
  • Dresta   >  kuna, purwa, loka, sastra
  • Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat
  • Lembaga
  1. 2. Upacara

Upacara berasal dari kata upa  dan cara.  Upa artinya berhubungan dengan, cara artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti upacara adalah  :

-                       gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna.

-                      Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya.

  1. 3. Upakara

Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang berbentuk sesaji dan segala perlengkapan

B.   Peranan Acara

-                      Tertib hokum dan moral

-                      Jagadita  – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha :   empat tujuan(jalan)  utama umat Hindu untuk

mencapai bahagia sejahtera

a.  Dharma =  kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran)

b.  Artha =  kekayaan, materi, jer basuki mawa bea

c.  Kama =  keinginan, kesenangan

  1. d. Moksa =  kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi.

2. Catur marga   :

a.  Bakti marga       = hormat taat tekun,

b.  Karma  marga   = kerja, aktif

c.  Adjnana marga = menguasai ilmu   pengetahuan dan teknologi

d. Yoga Marga       = samadi berserah diri, disiplin, tekun

3.  Panca dresta    : lima adat kebiasaan

-                      Sastra dresta  = hokum tertulis

-                      Desa dresta     = peraturan desa

-                      Purwa atau kuna dresta  = kebiasaan yang dianut sejak dahulu

-                      Loka dresta  = adat istiadat setempat

-                      Kula dresta  = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat

B.  Ruang Lingkup Acara

1. Kula acara :   adat kebiasaan dalam suatu keluarga

2. Desa Acara :   Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis,

kondisi social ekonomi.

3.  Dharma acara :   kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma,

4.  Jati acara

-                      Kebiasaan dalam satu golongan, kelompok

-                      Catur warna > pembagian berdasar profesi, pekerjaan, keahlian

Brahmana > kebijakan, pemikiran (pendeta, pendidik, guru, dokter)

Ksatria          >   ketangkasan fisik ( tentara, polisi, hansip, satpam)

Waisya          >  keahlian bisnis  ( pedagang, nelayan,petani)

Sudra            >  mengandalkan fisik (buruh, pekerja)

5.  Wyawahara Acara :  hokum acara  > hokum Negara

6.  Sista Acara :  Kebiasaan yang sudah  tingkat sista= suci=

diksita(Mahareshi, pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.

C.   Sumber Acara

Sumber Acara    >   sebagai sila

-   Agama      =   diambil dari kita

-   Rta             =   hokum alam

Sumber Acara      >  sebagai  dharma

  1. 1. Kitab Weda Sruti  = berdasar pendengaran Mahareshi

-   Mantra  :  catur Veda (Rg. Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan

Athrwa Veda)

-  Brahmana :  Aitareya, Satapatha, Tandya, Gopatha > Aitareya

Araniyaka, Satapatha A, Tandya Araniyaka, Gopatha Araniyaka.

-  Upanisad :   Ulasan Catur Veda  > 92 bh, Upanisad Rg Veda 10 bh,

-   Upanisad Sama Veda  10 bh, Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla +

31 bh Krsna Yajur veda, Upanisad Atharwa Veda 31 bh.

2.   Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi

=  Wedangga  > enam buah (Sad Wedangga)

*   Siksa  = cara pengucapan mantra yang benar

*   Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda    lebih tepat

*   Chanda = lagu, irama, tembang tentang isi veda.

*    Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia

*   Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti   srauta sutra = upacara besar, Grhya Sutra = berumah tangga, Dharma Sutra = menjalankan pemerintahan, Sulwa Sutra = membuat bangunan, Silpasastra = asta bumi, kosala kosali.)

-   Upaveda  :   Itihasa, Purana, Artasastra, Ayurveda.

3.  Acara  (Sadacara)  : Kebiasaan, tingkah laku ;   peraturan tentang

baik buruk; Tidak bertentangan dengan harga diri.

4.  Sila : –  Tingkah laku yang baik dari orang suci; perbuatan yang

menyenangkan  orang lain.

5.  Atmanastuti = priyatmana : hati nurani ; kepuasan diri sendiri.

6.  Nibanda :  ditulis Mahareshi, Resi seperti Sarasamuscaya,

Purwamimamsa, Brahmasutra, Wedantasutra, Wahya

Pengertian dharma  :

-  Satya  = kebenaran, kejujuran

-   Rta     = mengakui hokum alam

-   Tapa  = pengendalian diri

-   Diksa  = penyucian

-   Brahman = Hyang Widhi

-   Yajna   = pengorbanan

BAB III

Y  A  J  N  A

A.   Pengertian

Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti memuja, mempersembahkan atau melakukan pengorbanan  Dari kata Yaj  kemudian menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata  yajus dan yajamana   :

1.   Yajna artinya :

Secara niskala yang tidak nampak:

-  pengorbanan suci lahir batin, demi kebenaran (dharma)

- sistem persembahyangan, kebaktian > upacara, upakara,

pemujaan, persembahan atau  korban suci

-   system penerapan dan mengamalkan ajaran agama

Secara sekala /yang nampak

–   pengorbanan suci  > menegakkan dharma( menolong orang)

-   menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara

bhuana agung dengan bhuana alit, jagat raya dengan umat

manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan)

-   Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna

2.   Yajus artinya  aturan tentang yajna

3.  Yajamana  artinya orang yang melaksanakan yajna

Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Ditinjau dari sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama      :  Agama Saiwa, Waisnawa, Saktisme, manifestasinya.

Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci  sebagai berikut ;

Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih

‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk

(Bhagawadgita  III.10)

Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna, berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Satyam brhadrtamugram diksa, tapo brahma yadnya

Prthiwimdharayanti

(Atharwa Weda)

Artinya : Sesungguhnya  satya,rta, diksa, tapa, brahma dan yadnya  yang menyangga dunia.    

Yajna ngaraning manghanaken homa

(Wraspati Tattwa)

Artinya : Yajna artinya mengadakan homa   

Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni

pinakadinya                           (Agastya Parwa)

Artinya : Yajna artinya “Agnihotra”  yang utama yaotu pemujaan atau persembahan  kepada Sang Hyang Siwa Agni.

Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan “Agnihotra” dalam Agastya Parwa, yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila), madu kayu cendana (sri wrksa)  mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.24-27. Jadi  pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa minjak dan susu.

Dengan yajna itu menimbulkan hujan, dari hujan timbul makanan, dari makanan lahir mahkluk hidup. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.14), yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan.

Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Agni berkedudukan sebagai perantara manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Jadi kemudian Yajna berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.

Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada upacara atau ritual semata, walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.

Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam yajna :

  • Karya  (adanya perbuatan)
  • Sreya (ketulus ihklasan)
    • Budhi (kesadaran)
    • Bhakti (persembahan)

Semua perbuatan yang berdasarkan dharma, dilakukan dengan tulus ihklas  disebut yajna seperti “

  1. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi
  2. Mengendalikan hawa nafsu
  3. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup
  4. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang susah dll.

Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.

Bhagawadgita III.9 menyebutkan :

Setiap melakukan  pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai

yajna   dan untuk yajna.

Bhagawadgita III.12 menyebutkan

Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau yajna. Maka sebelum menikmati  makanan, kita harus mempersembahkan makanan itu pada Tuhan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan anugrah Tuhan.

Atharwa Weda XII.I menyebutkan :

“Satyam behad rtam ugram, diksa tapa brahma yadnyah, prthiwim  dharayanti, sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam”

Artinya    :   Kebenaran (satya)  hokum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), tapa brata, doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini, ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.

Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan  bahwa kita harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat sesuatu. Dengan kemantapan srada,  bhakti dan iman  yajna dilaksanakan oleh umat beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang hidup dialam semesta ini.

B.  Tujuan Yajna

  1. 1. Untuk mengamalkan ajaran Weda

Disebutkan  dalam kitab Rg Weda X.71.11 :

“Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu

Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah

Artinya

Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda, seorang melakukan nyanyian-nyanyian pujian dalam Sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda, mengajarkan isi Weda, yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).

Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.

Bhagawadgita VII.16 menyebutkan :

“Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino ,rjuna

Arto jijnasur artharthi  Jnani ca bharatasabha”

Artinya

Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku, wahai Bharatasabha, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.

Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati, untuk memuja Tuhan dapat dilakukan dalam berbagai cara.

2. Untuk meningkatkan diri

Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga  golongan yaitu

-   Tumbuh-tumbuhan yang memiliki  bayu (eka pramana)

-   Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana)

-   Manusia memiliki bayu, sabda dan idep (tri pramana)

Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna, dengan memiliki idep atau disebut manu yaitu mental power, kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia, dapat membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.

Dalam kitab Sarasamucaya  81 disebutkan dalam terjemahannya sbb.:

Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya, banyak yang dicita-citakan terkadang berkeinginan, terkadang penuh keragu-raguan, demikianlah kenyataanya, jika ada orang yang dapat  mengendalikan pikiran  pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain.

Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Dalam agama ada ajaran pengendalian diri , manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.

3.    Penyucian

Berbagai  macam upacara atau  yajna pada bagian-bagian tertentu dari pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian.  Pedudusan, caru, tawur, prayascita, pelukatan  disamping sebagai  persembahan juga bermakna sebagai pebersihan atau penyucian.

Kitab Bhagawadgita  XIV.16 menyebutkan :

“Karmanah sukrtasyah ,huh  Satvikam nirmalam phalam

Rajasas tu phalam  duhkham Ajnanam tamasah phalam”

Artinya :

Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala, sedangkan hasil rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan.

Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna, Sattwika, Rajasa dan Tamasa. Masing-masing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin hidupbersih dan suci, hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan tamasa.  Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya.

Kitab Manawa Dharmasastra V . 109 menyebutkan

“Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti,

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti”

Artinya  :

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran ,  jiwa manusia dibersihkan dengan  pelajaran suci  dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Maka setiap upacara agama akan berarti bila pelaksanaannya  didasar  kesiapan dan kesucian rohani, jasmani suci, hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual

4.  Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.

Yajna, upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya.  Melaksanakan Yajna berarti melaksanakan yoga.  Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua masyarakat umumnya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri Manggalaning Yajna  yaitu :

a.  Sang Yajamana  adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna

b.  Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten

c.  Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).

Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.  Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna, pikiran terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat dapat berhubungan dengan Tuhan ?

Kitab Rg Weda III .54.5 menyebutkan :

“Ko addha Veda ka iha pravocad,  Dewam accha

pathyaaka sameti

Dadrsra esamavamak sadamsi, paresu ya guhyesu wratesu “

Artinya :

Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya akan    mengantar  bersama menuju Tuhan ?  Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana  Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi, diwilayah rahasia

Kitab Bhagawadgita VII.8  memberi petunjuk sbb. :

“Raso ‘ham apsu kaunteya,   prabha ‘smi  sasisuryayoh,

Pranavah sarvavedeshu,  sabdah  khe paurusham nrisu”

Artinya :

Aku adalah rasa dalam air,  Kunti putra, Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari. Aku adalah huruf aum  dalam kitab suci Weda, Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada manusia.

Tuhan berada dimana-mana, pada seluruh ciptaannya. Beliau diair, di bulan di matahari, huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air, cahaya bulan dan matahari, huruf-huruf kitab suci, getaran suara dan kemanusiaan  dalam hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta.

5.   Untuk mencetuskan rasa terima kasih

Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Utamalah yang dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong dirinya sendiri, dapat berterima kasih pada Tuhan.

Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :Kitab Sarasamucaya I. 4.   menyebutkan

“Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe

Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih

Apan ikang dadi wwang uttama juga ya, nimittaning

mangkana,  wenang ya Tinulung  awaknyasangkeng

sangsara, makasadanang  subhakarma

Hinganina  kotamamaningdadi wwang ika

Artinya  :

Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat  menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma  yang baik, demikianlah keistimewaan menjadi manusia.

Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada tiga macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu :

*  Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna.

* Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Rsi Yajna.

* Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan, memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna.

Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung, pupuh, wirama, sloka, palawakya. Seni tabuh, seni tari dll ikut mendukungnya.

D.  Dasar dan peranan Yajna

Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda, Upanisad dan Bhagawadgita menjadi dasar dalam pelaksanaan yajna, dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan manusia.

Rg Weda  X.10            : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.

Bhagawadgita III.11  : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Jadi saling memelihara satu sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan.

Bhagawadgita III.12  : Ia yang hanya suka dipel;ihara tidak mau memelihara maka ia adalah pencuri.

Manawa Dharmasatra, VI.35  : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet, ana pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah”

Artinya   :    Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan, kepada leluhur,  dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan  tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).

Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) :

  1. 1. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
  2. 2. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi
  3. 3. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur

BAB    IV

J E N I S    Y A J N A

A.    Jenis-jenis dan bentuk-bentuk  yajna

Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain :

1.  Persembahan menggunakan sarana  upakara ( sajen /banten)

2.  Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri)

3.  Persembahan  dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas

4.  Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).

5.  Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.:

“ye yatha mam prapadyante, tams tathai ‘va bhayamy aham

Mam vartma .nuvartante, manushyah partha sarvasah”

Artinya

Dengan jalam manapun (beryajna)   ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya

Ku-terima  dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh  Partha.

Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi :

1.  Nitya Yajna

Yajna yang dilaksanakan setiap hari

2.  Naimitika Yajna

  • Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari, pagi sing dan sore
  • Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak pada Hyang Widhi beserta manifestasinya, sebelum kita makan masakan itu.
  • Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan, pelaksanaannya adalah proses belajar mengajar.  Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap saat, setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.

Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar pelaksanaannya sbb.:

a.   Dasar perhitungan wara seperti ;

–   eka wara =  Luang

-    dwi wara =  Menga, Pepet

-    tri wara =  Pasah, Beteng, Kajeng

-    catur wara =   Sri,  Laba,  Jaya,  Menala

-    panca wara =   Pahing, Pon. Wage, Kliwon. Legi,

-    sapta wara =  Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu,

Redite,  Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra,  Saniscara,

Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara kasih) untuk di Jawa, untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon Dungulan hari Galungan.

  1. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu :  Sinta, landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kulawu, Dukut, Watugunung.
    1. Perhitungan sasih : Purnama, Tilem, Siwaratri, Nyepi, Equinok(matahari diatas katulistiwa), Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan paling sekatan).

3.  Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu yang tidak terjadwal, dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Sebagai contoh upacara melaspas, ngulapin orang jatuh, Sudi wadani dll.

B.  Landasan pelaksanaan yajna

Prinsip moral berdasar  keyakinan (Panca Srada),  ketulusan, kesucian hati. Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat), kala ( waktu), dan patra (keadaan), hendaknya untuk menjamin kelancaran, keseimbangan dan keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya.

Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan :

-    Nista artinya yajna tingkatan kecil

-    Madya artinya  yajna tingkatan sedang

-    Utama artinya yajna tingkatan besar.

Berdasar kualitas yajna  (Bhagawadgita XVII   12 ) maka dapat dibedakan :

-  Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa   mengindahkan sastra,   mantra, kidung suci daksina dan srada

-  Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya dan pamer kemewahan.

-   Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha, lascarya, sastra agama, daksina, mantra,  gita annasewa dan nasmi

Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah :

  1. Sradha artinya yajna dilakukan  penuh keyakinan (ingat Panca Sradha).
  2. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang)
  3. Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci.
  4. Annasewa : yajna dilaksanakan  persembahan jamuan makan  para tamu.
  5. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.

Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Panca Yajna  dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna), dalam hidup ini.

Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb :

1.  Kitab Satapatha Brahmana

  1. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta.
  2. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia
  3. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut swadha
  4. Brahma Yajna  adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.

2.  Kitab Bhagawadgita IV.28 sbb.:

“Dravya-Yajnas tapa-yajna, yoga-yajnas tathapare,

Svadhyaya, jnana yajnas ca yatayah samstia vratah

Artinya :

Ada  yang  mempersembahkan harta, ada tapa, ada yoga, dan yang lain pula pikirkan yang terpusat dan sumpah berat, mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.

Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.:

  1. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda
  2. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria
  3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa
  4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
  5. Jnana yajna :  persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi

3.   Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka  :

*  Manawa Dharmasastra  III.70

“Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam

homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam”

Artinya  :

Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana, menghaturkan tarpana dan air adalah korban untuk para leluhur, persembahan dengan minyak dan susu adalah korban untuk para Dewa, persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.

Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.:

  1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara penuh keikhlasan.
  2. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada para leluhur
  3. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan minyak dan susu kehadapan para Dewa.
  4. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali kepada para bhuta
  5. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah

*   Manawa Dharmasastra  I.74

“Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih

Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam

Artinya :

Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda, huta persembahyangan homa, prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta,

Brahmahuta, yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah  persembahan terpana kepada para pitara.

Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut  dilaksanakan sbb.:

Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda

  1. Huta  adalah persembahan dengan api homa
  2. Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta
  3. Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana
  4. Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.

*  Manawa Dharmasastra III.81

“Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Pitrrn

Sraddhaisca  nrrnam nairbhutani balikarmana”

Artinya

Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi       dengan mengucap  Weda, kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar, kepada leluhur dengan sradha, kepada manusia dengan pemberian makanan dan  kepada para bhuta dengan upacara korban.

Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan:

  • Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru suci,sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda
  • Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang telah masak kehadapan para Dewa.
  • Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur
  • Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
  • Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.

4.  Kitab Gautama Dharmasastra

Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna:

  • Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya
  • Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan para dewa penjaga pintu pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah.
  • Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.

5.   Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb.:

  • Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen, mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama
  • Rsi Yajna adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan dan barang-barang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.
  • Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
  • Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur
  • Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.

6.   Lontar Singhalanghyala

Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.:

  • Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan
  • Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata
  • Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci
  • Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan  brata, tapa dan Samadhi.
  • Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian

7.   Lontar Agastya Parwa

Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia, mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb.:

  • Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.
  • Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci
  • Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa
  • Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.
  • Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat.

BAB V

U P A K A R A

  1. A. Pengertian

Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara  (jalaran)  dan ”kara” artinya sembah. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten

Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya ingat atau  dibuat sadar.

Di Jawa upakara  bisa disebut sesaji  yang artinya  sesuatu yang disajikan atau dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga, ada yang mampu dengan melaksanakan persembahyangan, ada  yang memiliki kekuatan jnana yoga yang tinggi, juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja Yoga.

Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa  sebetulnya dengan adanya upakara  sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada  Hyang Widhi akan mendidik umat agar selalu ingat kepada-Nya.

Dalam lontar ”Tutur Tapeni”  disebutkan bahwa  upakara itu merupakan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam Tri angga antara lain :

  • Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber kekuatan atau sumber pengatur
  • Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan, dapetan adalah simbol badan dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut.
  • Semua bentuk lealaban seperti caru, segehan adalah simbol pantat.

Petikan Tutur Tapeni :

Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang  akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi, arupa gama anuntun kang manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran, kara ngaran sembah, upakara ngaran bhakti ring Widhi, nimitaning samangkana pagehakna ikang yadnya, apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang reringgitan ra ngaran raditya, ringgit ngara, patemon, patemon Sang Hyang Raditya lawan manusa, ngaran pesaksi, sahananing dasa guna parekrama ring manusa

Apan Widhi widana juga ngaran banten, kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi), anten ngaran inget, ngaran eling, ling ngaran tunggal, ngaran kimanusa anunggal lawan Widhi.

Iki paribasa Aidhining yadnya, luiripun, yadnya adruwe prabu (hulu), tangan dafda muah suku manut manista, madya, motama. Daksina pinaka huluia, jerimpen karo pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga, sahananing palelabanan pinaka suku.

Dalam beryajna  ada gerak kendali yang memiliki  dua kecernderungan :

1.   Daiwi Sampad

Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini tercermin kedalam persembahan sebagai simbol

2.   Asuri Sampad

Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini akan tercermin  kedalam persembahan sebagai simbol.

B.  Makna simbol dalam Upakara

1.   Banten Canang

a.  Pengertian

Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. Kebiasaan makan sirih jaman dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat

Kekawin Nitisastra menjelaskan :

Masepi tikang waktra tan amucang wang

Artinya

” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih”

Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi, apalagi dengan banyak penelitian mengenai  manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya  diseluruh Nusantara, terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa Jawa).

Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh Ayu  Kembang wangi ( Bahasa Jawa, artinya Pisang yang cantih, sirih yang cantih dan bunga harum). Setelah Agama Hindu berkembang  di Bali, daun sirih menjadi unsur penting dalam setiap sesajian, yang menjadi unsur pokok dalam apa yang disebut  banten canang. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan.

b. Bahan  Banten Canang

*   Porosan

Porosan dibuat dari daun sirih, kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa) dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip  Porosan dimaknai pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti  (buah pinang sebagai lambang Brahma, sirih sebagai lambang Wisnu,  dan kapur sebagai lambang Siwa.

*  Plawa

Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, maksudnya dalam memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci.

*  Bunga

Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. Memuja Tuhan Yang Maha Esa berlandaskan keihklasan

Dalam Bhagawadgita, VII.1 disebutkan

Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha, yogam yunjan

madarasyah, asamsayam samagram mam, yatha jnasyasi tach chhrinu

Artinya

Dengarkan kini oh Partha, melaksanakan yoga, Dengan pikiranmu terpaku kepadaku, Dengan aku sebagai pelindungmu, Tanpa ragu kau akan mengenal Aku sepenuhnya. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami keresahan dalam hidupnya. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan tenang apalagi hening dan suci.

*  Tetuesaan, Reringgitan dan jejahitan

Tetuesan, reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju kebaikan dan kebenaran

*   Urassari

Urassari  dibuat darijejahitan, tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Kemudian disusun sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai  Padma Astadala, lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya

Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi melalui  tiga proses

-  Srasti   adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua unsur purusa dan perdana

-   Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak keseombangan yang bersifat dinamis, kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber kebahagiaan.

-. Pralaya  adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Kitab  Bhagawadgita  III.24 menyebutkan

Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham

samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah

Artinya

Jika Aku berhenti bekerja, dunia akan hancur lebur dan

Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu

  1. a. Makna Canang

-          Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya

-          Lambang menumbuhkan keteguhan, kelanggengan dan kesucian pikiran

-          manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi

-          Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran Agama

-          Hindu  dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini

2.   Kewangen

a.    Pengertian

Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bbbhati para pemujanya.

b.  Cara memakainya

Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Yang  merupakan  muka adalah uang kepeng, bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam.

c.  Bahan

Kewangen dibuat, tempatnya dari daun pisang  atau janur yang dibentuk kojong. Isi kewangen, daun-daunan (plawa), bunga, uang kepeng dan porosan silih asih. Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur, gambir dan buah pinang, diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya.

3.   Daksina

a.  Pengertian

Kata Daksina  menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi.

b.  Bahan-bahan, isi  dan makna simbol dalam  Daksina :

Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut, sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. Mengenai telor kenapa harus telor itik,  karena itik siwatnya baik, dapat membedakan yang kotor dan yang bersih, tidak mau bertengkar. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi  kebijaksanaan oleh Hyang Widhi.

4.   Segehan

a.   Pengertian

Upacara mesegeh adalah upacara  Dewa Yajna yang dilaksanakan pada

-   Kajeng kliwon   :  Sang Kala Bucari = halaman rumah

Sang Bhuta Bucari  = halaman merajan

Sang Dewi Durga   = dipintu luar

b.  Bahan segehan

-          Nasi (sega)  ditaruh dalam tangkih (alas dari janur  berbentuk segitiga)

-          untuk dihalaman rumah 4 warna (putih, merah, kuning dan hitam)

-          masing-masing dalam tangkih ditaruh di  4 arah mata angin

-          untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih

-          (putih, merah, kuning, hitam dan ditengah pancawarna/brumbun)

-          –   untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan   1 warna putih

-          dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah)

-          beras, uang kepeng (2bh)  base  (sirih), benang putih dalam 1 tangkih

-          bawang (merah), jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih

-          canang  yasa atau plaus sampian tangas dan bunga.

-          api takep atau dupa

-          air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha.

Bahan ini semua ditaruh dalam tamas, sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan, juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada.

c.   Etika Religius masegeh

  • Waktu   :  kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem)
  • Tempat/menaruh dengfan urutan:
      • dihalaman rumah,
      • dihalaman pemerajan,
      • didepan pintu pekarangan

*   Tata cara menghaturkan segehan

  • Tamas berisi segehan, api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi  bahuditaruh ditempat seperti diatas, letak segehan sesuai dengan warnanya, putih timur, merah selatan, kuning barat dan hitam utara  begitu pula yang lain.
  • Api takep  diletakkan disebelah kanan tamas,  batil sebelah kiri.
  • Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah, merajan terakir diluar.
  • Segehan dipersiki tirtha pelukatan  tiga kali
  • Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari, pemujaan atau mantra.
  • Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali
  • Ayaban tangan  4 kali dihalaman rumah, 5 kali untuk dimerajan, 9 kali untuk didepan pintu prkarangan
  • Berdoa atau memantra
  • Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali
  • Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali.
  • Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan, kidung  tarian atau wayang

5.  Prayascita

a.Pengertian :

Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan (penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan Siwa Guru.

b.  Bahan Prayascita

  • Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai
  • kekuatan pawitra (penyucian)
  • 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk menjadi Panca Dewata.
  • 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol  angin memiliki makna kekuatan penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci.
  • 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata.
  • Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna   memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa.
  • Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha
  • Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian
  • 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang Siwa Guru.
  • Dua tanda  usehan  satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma)
  • Ceper berisi tepung tawar, pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri pramana bermakna sabda (tepung tawar), bayu (pengresikan), dan idep (pengelelenga). Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus, pengelelenga terbuat dari minyak wangi.
  • Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan tirtha maha mertha (siwa tirtha)
  • Jajan  pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam mengandung makna permohonan
  1. 6. Yajna Sesa

a.  Pengertian

Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan  kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan, (prasadham istilah India)

Dasar Bhagawad Gita III.13 menyebutkan :

Yajna sishtasinah santo, mucyante sarva kilbisaih,

bhunyate te tv  agham papa, ye pacaanty atma karamat”

Artinya

Yang baik makan setelah bhakti, akan terlepas dari segala dosa,

Tetapi menyediakan makanan lezat hanya  bagi dirinya sendiri

mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan, menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan,  akan memperoleh kebahagiaan.

1.Tujuan

Tujuan Yajna Sesa  adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita.

2.Pelaksanaan

Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan dipersembahkan di altar pemujaan, baru kemudian menikmati hidangan.

Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan punjung kehadapan leluhur.

Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk leluhur.

Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan  sesudah masak mula-mula disiapkan daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji.  Sesaji yang dihaturkan dalam Yajna Sesa sangat sederhana, yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan diberi lauk atau garam saja, ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak, ditujukan kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.Tempat Yajna sesa :

*   Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran)   dipersembahkan untuk menifestasi  Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether

*   Ditungku dipersembahkan  untuk  Dewa Brahma atau Dewa Agni

*   Ditempat air dipersembahkan  untuk Dewa Wisnu sumber air           *   Dihalaman rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi

*   Ada juga yang member ditempat beras, dipintu pekarangan, ditempat menumbuk padi dll

3.  Makna

Yajna Sesa memiliki makna  :

Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya.

*   Belajar dan berlatih mengendalikan diri

*   Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan

Yajna Sesa  ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana atau bhakti kepada Tuhan. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan kepekaan perasaan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan menimbulkan perasaan bahagia. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad lamanya oleh umat Hindu,  sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya  (Kawula-Gusti)

BAB  VI

PANCA YAJNA  DAN MAHA YAJNA

A.   Pengertian

Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana, karma dan bhakti dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh pendeta atau pinandita.

Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa), sesungguhmya harus ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri sendiri. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.

Pelaksanaan Yajna  harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias melakukan yajna. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk kepribadian  umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. 

Telah kita ketahui  Panca Yajna  karena manusia merasa memiliki hutang-hutang yang disebut dengan Tri Rna.

B.  PANCA YAJNA

Dewa yajna

1.  Pengertian

Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta manifestasinya  dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci)

Wujud :   Niskala  >  upacara, upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa, Batara

Sekala  > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha)

2.  Tujuan Dewa  Yajna

a.   Mengamalkan ajaran- ajaran  Weda

b.  Meningkatkan kualitas diri

c.  Untuk mensucikan diri

d.  Sarana berhubungan dengan Tuhan

e.  Untuk mencetuskan rasa terima kasih

3.  Jenis  pelaksanaan Dewa Yajna

a.  Dengan memhaturkan  sajen (banten) dan melakukan persembahyangan

Perlu diperhatikan, yang penting dalam membuat sajen  dan harus ada dalam yajna :

-  Simbol Brahma  : Agni (dupa, kemenyan, ratus, lilin) sebagai saksi dan pengantar persembahyangan

-  Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi

-   Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa.

Bhagawadgita IX.26 menyebutkan :

“Patram, puspham, phalam toyam, yo me bhaktya praya

chchati,    Tad aham bhaktyu pahritam,

Asnami     prayatatmanah”

Artinya         : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Setangkai daun, sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat simbolik. Yang utama adalah hati suci, pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Nya. Membuat banten sesuai dengan kemampuan, tidak usah bermewah-mewah, jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah, marah, iri dengki dll.

b.  Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna

Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan, kenyamanan agar dalam proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman bunga, serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan, sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.

c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra).

Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama, disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten, latihan tari, mekidung (nyekar dalam bhs. Jawa). Juga untuk latihan meditasi (raja yoga).

4.  Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna

Tempat  : di Pura, atau dirumah (kamar suci/ altar,  di luar rumah (pekarangan yang dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas untuk melaksanakan Trisandya.

Sarana    :

  1. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi
  2. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa, air, bunga bila ada buahbuahan,
  3. c. Ada  tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.

Pelaksanaan :

  1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing.
  2. Sulinggih/pendeta,pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas untuk muput.
  3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian

d. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara

-          Pemuput upacara duduk, asuci laksana, ngastawa genta, mohon pengaksama.

-           Nglinggihang/ngantep banten taksu

-          Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan

-          Nganteb banten Byakala, Durmenggala dan Prayascita untuk banten

-          Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa

-          Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih memakai puja “Utpatti”, puja “Sthiti”/Apadeku.

-          Menghaturkan banten, ngantep segehan dan pengaksama jagatnata

-          Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai simbul sujud pada Hyang Widhi.

-          Selama pemuput upacara memuja bhakti, umat menghaturkan kidung-kidung

-          Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas.

-          Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas.

-          Ngantukan Betara, Prelina Genta kemudian penutup.

5.  Upacara yang termasuk Dewa Yajna  :

  1. a. Hari Purnama dan Tilem
  2. b. Hari berdasar pawukon (contoh  Budha Kliwon Sinta = Hari Pagerwesi)
  3. c. Hari berdasarkan Pancawara :

Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah), Sang Bhuta Bucari (natar merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar.

Anggara Kasih  >  Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat

Buda Cemeng   > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara

Merta/kehidupan

  1. d. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya), Gerhana Bulan Hyang Candra), panen (Dewi Sri), mendirikan bangunan suci, piodalan pura/merajan, kahyangan dll.

PITRA  YAJNA

1.  Pengertian

Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia.

Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh  leluhur yang sudah meninggal. Ptra Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik dan layak kepada orang tua (ayah, ibu) serta memperlakukan dengan baik.

Wujud Niskala : Upacara, upakara untuk para pitara, orang yang sudah meninggal

Sekala  : menghormati, tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan sesudah meninggal

2. Dasar

Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya.

Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna

Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah, ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa, mulaimemberi makan, kesehatan, pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam)

3.  Tujuan

Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal).

Bila orang tua sudah meninggal  Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah.

4.  Tata cara pelaksanaan Pitra yajna

Untuk orang tua yang masih hidup, titik beratnya pada susila,

berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia, ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan, orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Anak yang hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra.

Untuk orang tua yang sudah meninggal

Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan  agar jenasah kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi).

Tingkatan Pitra Yajna sbb.:

Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng.

Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan

Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah , abu tulang-tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol saja.

Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang Widhi.

Pelaksanaan Pitra Yajna

Sawa Preteka :   Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman bunga wangi. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas, dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur.

Sawa Wedana :  membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah (modern), dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat supaya wangi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau sungai. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa), bunga tirtha. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara.

Atma Wedana :  Tempatnya dirumah, disanggah atau tempat lain yang ditentukan. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan manusia. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Kemudian diantar puja praline  Puspam Sarira  dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut

Hembusan nafas terakhir

Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan  Puja Pralina :

Om      a  ta   sa   ba   I    wasi mana ya mang  ang  ong              atau

Murcahntu, swargantu, moksantu, angksama  sampurna ya       namah swaha

RESI YAJNA

1.   Pengertian

Rsi yajna  adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi,  para Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.

Wujud Niskala : Upacara, upakara kependetaan

Sekala  : menghormati Sulinggih, Orang suci, belajar agama

2.  Tujuan

Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi, Sulinggih, Pedanda, Pendeta, Sri Empu, Pinandita, Wasi, Pemangku dll.

3.  Cara melaksanakan Rsi Yajna

Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita, wasi, atau pemangku).

Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih).

Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih

Menghaturkan punia, Rsi Bojana (santapan)  kepada para Sulinggih

Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih

Membantu tugas para Sulinggih

Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih

Diksa artinya disucikan, sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali.

Syarat Calon Sulinggih

-          Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari

-          Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya)

-          Pasangan suami istri

-          Umur minimal 40 Tahun

-          Paham bahasa kawi, Sanskerta, dan bahasa Indonesia, memiliki pengetahuan umum, mendalami intisari ajaran agama Hindu

-          Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana, berkelakuan  baik dan tidak pernah tersangkut perkara pidana

-          Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan

-          Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali bertugas keagamaan.

Syarat-Syarat Nabe

  1. a. Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin
  2. b. Mampu melepaskan diri dari keduniawian
  3. c. Tenang dan bijaksana
  4. d. Paham dan mengerti Catur Weda, dan selalu berpedoman Kitab suci  Weda
  5. e. Mampu membaca Sruti dan Smerti
  6. f. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

Langkah pelaksanaan upacara Diksa

  1. a. Upacara awal
  • Mejauman  >   berkunjung kegria nabe + upakaranya
  • Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu
  • Mapinton = asucilaksana > disegara, gunung dan merajan nabe
  1. b. Upacara Puncak.
  • Amati raga = penyekepan, melakukan yoga (monabrata dan upawasa)  sehari penuh sebelum mediksa.
  • Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju ke pemerajan untuk didiksa.
  1. c. Upacara pokok
  • Pedanda nabe memuja atau ngarga
  • Calon diksita melakukan upacara mebyakaon, muspa dan luhur apari sudana (ganti nama)
  • Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar.
  • Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe, digosok minyak kayu putih, diasapi 3 kali, digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun
  • Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning pada tengen
  • Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya

MANUSA YAJNA

1.  Pengertian

Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta kesejahteraan manusia lainnya.

Wujud :  Niskala >  upacara & upakara kemanusiaan

Sekala >  monolong & berkorban untuk kemansiaa

2.  Tujuan

Untuk  memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.

Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia, manusia dapat hidup selamat, sejahtera, rukun, aman, damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga samadi secara tekun dan disiplin.

Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna  perlu adanya “Tirtha pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja, mantra Weda) oleh pendeta atau pimpinan upacara. Pada umumnya orang yang jujur, berilmu dan bijaksana adalah orang yang dianggap sesana beliau.

Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan :

Ad bhir gatrani  cudhayanti, manah satyena sudhayanti,

widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti.

Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.

3.  Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna

a.  Upacara mabyakala (mabyakaon)

Upacara ini berupa pemberian korban, suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan meninggalkan tempat tersebut, dan malah merestui.  Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon.

Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah, waktu natap banten diarahkan  kearah belakang dan samping. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna.

b. Upacara melukat/mejaya-jaya

Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil), eteh eteh padudusan alit (lebih besar), eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara, dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin.

c. Upacara Natab (ngayab)

Upakaranya disebut  banten tataban (ayaban).  Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan  member restu. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.

Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatan-kekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti:

*  Hati ditempati oleh Dewa Brahma

*  Jantung ditempati oleh Dewa Iswara

*  Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu,

*  Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.

Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.

d. Upacara muspa (bersembahyang)

Upacara ini dapat dilakukan  dua macam :

-  Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya Raditya dan Hyang Guru

-  Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha.

4,  Jenis-jenis manusa Yajna

a.   Mengadakan upacara selamatan pada waktu :

-  Bayi dalam kandungan (3 , 4 , 5 , 7bulan, procotan)

-  Bayi baru lahir (nyambutin)

-   Bayi puput puser (kepus pungset)

-  Upacara ngelepas aon (12 hari)

-   Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan)

-   Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari)

-   Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan)

-   Tumbuh gigi, kemudian meketus.

-   Anak meningkat dewasa  (raja Sewala)

-   Upacara potong gigi (mesangih/mepandes)

-   Upacara perkawinan (pawiwahan).

b.  Peningkatan kualitas kemanusiaan :  pendidikan , seni

budaya, kesehatan, moral/ budi pekerti dll.

c.  Peningkatan  jiwa sosial/ kemasyarakatan   : Menghormati dan menolong     sesama manusia, seperti ramah tamah   pada  orang.

BHUTA YAJNA

  1. 1. Pengertian

Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta atau  semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Atau penyucian alam semesta beserta isinya

Upacaranya disebut mecaru, bantennya banten caru. Caru artinya mengharmoniskan.

Wujud : niskala   >  melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\

Sekala   > melestarikan, mengharmoniskan jagat/alam  seisinya

  1. 2. Tujuan

Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan, keselarasan, keharmanonisan alam semesta seisinya, kesejahteraan semua makhluk.

a. dengan cara :

  • Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap habis masak  ditungku, di sumber air dll (Yajna sesa.
  • Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata, Panca Kelut, Rsi Gana, Balik Sumpah, Tabuh Getuh, Tawur Agung, Panca Wali Krama (10 Th. Sekali), Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Sekali)
  1. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan  antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang, dan untuk tumbuh-tumbuhan tumpek pengatak. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari  “Tat Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam, mencintai alam, tidak hanya meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying
    1. C. PANCA MAHA YAJNA

Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu :

  1. 1. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten, sajen, harta benda, dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn, ini menjadi Panca Yajna.
  2. 2. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan menderita,meneguhkan iman, menghadapi segala godaan dengan menguatkan jiwa menghadapi perjuangan hidup.(  mengendalikan indria.)
  3. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan dengan mempergunakan diri pribadi  sebagai alat atau dana pengorbannanya. Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi, Swadhyaya Yajna mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh tanggung jawab)
  4. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).
  5. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.

Bhagawad Gita VI. 33 menyebutkan  :

“ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir,  berkata dan berbuat demi untuk kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia, segala hidupnya diabadikan serta sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”.lain, menjamu tamu menghormati hak orang lain (bersikap toleran), menjamu tamu, memberi sedekah dengan tulus ihklas.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama; kehidupan yang serba damai.

PANCA YAJNA BUDAYA JAWA

A.    Pengertian

Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu Karma Marga (jalan perbuatan),   Bhakti Marga (jalan kebaktian), Jnana Marga (jalan pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan). Upacara persembahyangan, berdoa, memantra  termasuk Bhakti Marga, jalan ini yang sering dilaksanakan karena jalan ini  mudah dan sederhana.

Yajna (Upacara persembayangan/ritual)  yang diambil sebagai contoh adalah Dewa Yajna dan Bhuta Yajna  dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura, Piodalan pura lain di Jawa, Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono, Upacara di Candi Menggung.

Manusa Yajna, Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan Yajna,  sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di  Pura dekat Gunung Bromo.

Adapun Yajna tersebut  antara lain  :

  1. Dewa yajna   :  Upacara Agni Hotra,  Upacara Malem Rabu Pon, Malem Jum’at Legi,  Upacara Tawur  Kesanga,  Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura, upacara Mahisa Lawung dll.
  2. Manusa yajna  :  upacara bayi dalam kandungan, bayi lahir, wetonan     naik dewasa,  perkawinan.
  3. Pitri  Yajna  :  Geblak (hari meninggalnya),  peringatan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak pisan, Pendak pindo,dan Nyewu (100 hari). (dilaksanakan dirumah duka  umat)
  4. Bhuta Yajnya :  Tawur Kesanga,  odalan  pura dan setiap ada yajna

Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura.  Semua upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan  desa kala patra. Baik sajen, karawitan serta pakaian umat memakai adat Jawa, tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan adat lain.

B.    Dewa Yajna

1.   Upacara  Agni Hotra

Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap   dalam Kitab Mahabharata yang menyatakan :

Seperti raja diantara umat manusia, seperti Gayatri dalam semua

mantra, Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua

upacara Yajna dalam  Kitab Suci Weda

Agni Hotra  diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III.75,76) yang diterjemahkan oleh G. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan :

Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap

harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan   korban pada hakekatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang   bergerak maupun yang tidak bergerak

Persembahan yang dijatuhkan kedalam api  akan mencapai

matahari, dari matahari turunlah hujan, dari hujan timbulah makanan dari mana mahkluk hidup mendapatkan hidupnya.

Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297).   Upacara Agni Hotra dilaksanakan didepan Arca Ganeshya.  Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja, karena lambang pengetahuan duniawi, spiritual dan sains sekaligus menggambarkan manusia dengan segala perikemanusiaan, peri kebinatangan  peri kedewataan secara utuh.

Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di Rig-Weda (2.23.1 dan 10.112.9). \Konsep  paling dini  kemudian berkembang menjadi Ganeshya masa kini, ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya- Veghneswara. Di Rig-Weda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya).

Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa memuja Dewa Ganeshya lebih dulu, karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. Beliau juga adalaaaah Vighneswara (penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana).

Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak sempurna/patah),tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. Dari  istri-istrinya sebagai simbol dharma dan adharma,  ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal dharmanya.  Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). Kepala beliau lambang Makro kosmos, badan melambangkan mikro kosmos. Ganeshya menyiratkan inti sari Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan, 2003 : 9).

Waktu pelaksanakan :  tiap hari Senin  dan Kamis sore   dimulai jam 16.00 Pengikut Ritual :  Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura Pelaksanaan :   api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya, pengikut upacara mengucapkan Puja Bhakti  Mantra  “Om   Sri Ganesha ya namah, ridhi, sidhi, budhi “ sebanyak 108 kali.

Salah satu pengikut  membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai   selesai (108 butir).   Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah,  sambil menaburkan bunga   kedalam api, biji-bijan. Setelah Puja  Mantra selesai dilanjutkan meditasi selama 45 menit

2Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon

Maksud dan tujuan Ritual

Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu, maka  termasuk Dewa Yajna

Waktu pelaksanaan :      Selasa Paing jam 19.00 (jam tujuh malam

Pengikut  Upacara : Umat Hindu  dari sekitar pura atau lain daerah.

Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa, baik laki-laki maupun perempuan bawah batik dengan baju hitam, menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam)

Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon.

1.  Sesaji         :  13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan, lancur) , bulu

dan cakar ditanam ditanah, selesai upacara ayam dapat  dimakan.

Dihaturkan :  Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara, Sanadana,Sanaka,

Sanaatana =  Sang Hyang Langgeng).

Bunga         :  Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji)

2.  Sesaji          :  Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng  9 warna ditata melingkar

putih (timur), dadu Tenggara), merah (Selatan), jingga

(barat  daya), kuning (barat), hijau (timur laut), hitam (utara),

Biru (timur laut),  berbagai macam warna (tengah).

Dihaturkan  :  semua dewa

3.  Sesaji           :  Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang

Dihaturkan  :   Bandung (Jaka Pengalasan)    Bunga          :   Mawar Putih.

4.  Sesaji           :   Tumpaeng bangun tapa 1 biji, wujudnya tumpeng putih

pucuknya     warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya

telur dadar (telur jantan).  Sesudah upacara dimakan.

Dihaturkan  :   Ki Lurah Semar

Bunga          :  7 warna, mawar, mlati, kantil, kenanga, gambir, cempaka,

dewandaru.

5.  Sesaji           :  Tumpeng Sabdopalon  1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus

(luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi).

Dihaturkan  :   Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah

Jawa).

Bunga          :   9 macam  selesai upacara ditaruh diperempatan.

6.  Sesaji           :   Ayam jago putih  mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa

Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan.

Dihaturkan  :   Sang Hyang Dharma  Bunga          :   Mawar putih

7.  Sesaji           :   10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik

dimasak  tanpa garam.

Dihaturkan  :   Ki Lurah Badranaya  (Klampisireng)

Bunga          :   Sekar Boreh komplit

8.  Sesaji           :   Tumpeng Rajapati  : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih

Dihaturkan  :   Jenggespati

Bunga          :   4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan.

9.  Sesaji           :   Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu

Dihaturkan  :    Dewi Sri  (Rara Jonggrang)

Bunga          :    Campur, sesudah upacara nasi dimakan.

10. Sesaji          :    Es batu pecahan  (2 piring)

Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai

11. Sesaji          :    Bunga mawar merah jambu  Dihaturkan  :   Dewi Ismayawati.

(Brosur  DPP Sadharmapan tanpa tanggal ).

Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina, Pisang Ayu Suruh Ayu,  Jajan Pasar, Nasi liwet beserta lauknya.

*  Pelaksanaan Upacara

Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan, dinyalakan lilin 18 batang melingkari  sesaji dan membakar kemenyan  kemudian dimulailah upacara. Acara upacara itu  berturut-turut  yaitu :   Dharma Wacana,  Mantram Budha Pengayoman  Pemujaan oleh Pinandita, yang  memuja  dan menghaturkan semua sesajian, yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa lengkap. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi.  Persembahyangan  Gayatri Tri Sandya dilanjutkan  Panca Sembah kemudian meditasi.  Metirtha yang dilayani oleh  pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu, dengan diringi kidung turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan.   Sesudah Parama Santi, sajian disurut  untuk makan bersama.

*  Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.

–     Buddha Pengayoman Olah Negara

–   OM shanno PARAMA SHIWA

–    shanno  IISMAYA  –  BUDDHA MaiTeRA AMITABHA –  sham

BRHASPATIH

–    shanno  BHAWADVARIYYAMA –  KALKI AVATAR

–     SANATKUMARA  –  SANANDHANA SANAKA  –  SANAATANA

–     SHRII ERLANGGA  –  SABDHAPALON –  MANU WISWAWATA

–     SHIVA MAHADEVA  –  SURYA  –  INDRA  –  CANDRA  –  KUWERA

– NILA  –  AGNI  –  YAMA  –  WARUNA

–    shanno  PERTIWI –  TAARAA  –  SHRII RADHA  –  KWAN IM

–  KALI  –  IISMAYAWATI  –  SHRII  BHAIRAWA BHAGAWATI

–      shanno DHARMA –  ISWARAH  –  BRAHMA  –  RUDRA  –  WISNU   urukramah.

Mantram ini diucapkan 9 kali

Mantram Pinandita selanjutnya  sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah  mantra dalam bahasa Jawa.

Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa

Duh Gusti asta kawula kasucekna

Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula

Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka )

Ingkang acahya cumlorong pinuji.

Duh Gusti ingkang  Maha Kuwaos, anugrahana kawula ambuka cahya Paduka

sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula.

Duh Gusti kawula puja Paduka, seestunipin sadaya punika; ingkang sampun  wonten, ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).

Duh Pangeran Tunggal, datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci, mboten kalahiraken, Ingkang wonten sakjawining pepeteng, mboten kasad mripat.

Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah, inggih Mahadewa, Iswarah Parameswarah, Brahma lan Wisnu saha Rudra. Tuking sadaya gesang, bibitipun sadaya dumados.

Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa,   jiwatman kawula nestapa, dosa wiwit dumados

Duh Gusti Pangeran Siwah, paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga kawula.

Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang, kabegjakna sirna sadaya dosanipun.

Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman.

Duh Gusti ingapuntena dosa kawula, ingkang saking tindak tanduk,  ingapuntena wicara kawula, ingapuntena dosa memanahan kawula, kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya lan sembrana

Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut  tentrem  Duh Gusti mugi  tentrem ing salajengipun

*  Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung)

Duh Hyang Agung, sinembah umat sedarum, dahat sru nalangsa, ngaturake  sembah bekti,  hamemuji,   mugi-mugi,  Hyang Widhi paring  nugraha.

Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa

Wus kumelun, kukusing dupa keluhur,

Ganda arum, merwawangi,

Saking pra jalma sadarum

Sumedya hangesthi Widhi

Haminta sih mring Hyang Manon

Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra

Kinanti Trisandya.

Duh Gusti Kang Maha Agung

Pangeraning jagat katri

Acahya suci gumilang

Dahat ulun sun pepuji

Anglunturna sih nugraha     2 X

Sumunaring cahyo wening

Tumandhuk ing manah ulun

Manter amadangi budhi

Dadosa jalaranira

Rahayu mulya sayekti

Gesang wonten madya pada  2 X

Dumugi delahan nenggih

Hyang Tunggal ugi sinebut

Narayana dedasaring

Kang tumitah sakbuwana

Ingkang sampun, ingkang wingking

Tanpa purwa, tan wasana        2 X

Datan wujud datan lahir

Pepeteng datan manaput

Netra kang wening umeksi

Satuhu sucining Dewa

Narayana datan kalih

Datan wonten nimbangana  2 X

Ingkang  uning saget tunggil

Paduka ugi sinebut

Hyang Siwah Maha Dewa  Di

Iswara Parameswara

Brahma wisnu Rudra nenggih

Purusah parikirtitah       2 X

Asmo yutan eko yekti

Kawula rumaos estu

Tiyang dosa langkung nistib

Karma jiwa sarwa dosa

Dosa wiwit duk dumadi

Maha suci asih mirah    2 X

Nucekna jiwangga mami

Maha Dewa amba nyuwun

Sih nugrahaning aksami

Sagung gesang kabegjakna

Luwar saking dosa sisip

Mugi Sang Hyang Sadha Siwa   2 X

Karsa tansah angayomi

Dosa saking tindak tanduk

Pangucap myang muna-muni

Dosa saklebeting manah

Sembrana myang weya mami

Gusti ngluberna haksama   2 X

Manunggaling tur sesant)

3. Upacara Siwaratri

Pelaksanaan Upacara Siwaratri  :   jam 21.00 (jam 9 malam)

Sajen  :  Daksina, Pisang Raja, Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar.

Pengikut upacara :  umat Hindu  dan orang-orang  di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura.

Kesepakatan Umat Hindu  diwilayah Surakarta, pelaksanakan Upacara Siwaratri dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta, maka sebagian umat yang dari Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta jam 19.00 malam sampai satu setengah jam. Sesudah selesai  kembali ke  Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri  dan dilanjutkan tirakat atau meditasi sesuai kemampuan. (Cleo, wawancara tgl. 15 Pebruari 2006).

4.  Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi

Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura Sahasra  Adhi Pura, setelah  selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. Dilaksanakan upacara ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam.

Sesaji untuk yang dibawah :

*   Sesaji pencok bakal lima buah ,  ditaruh di  lima tempat, empat   pojok lokasi

pura dan yang  satu ditaruh ditengah.

*   Ayam mentah   utuh beserta  pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala.

Sesaji yang diatas meja :

*   Daksina,  Tumpeng Pengyoman, Pisang Ayu Setangkep, suruh ayu  dan

bunga, Jajan Pasar,  Ingkung,   Nasi Liwet beserta lauknya.

Pelaksanaan Upacara.

*    Pada jam 15.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari  Petirthan  didekat  Arca Bagong oleh Pinandita, kemudian membuat Titha Suci.

*    Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan diberi dupa dan air suci, diperuntukan  bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah (jin, dedemit, gandarwa dll.) yang menimbulkan malapetaka.

*   Menghaturkan sesaji ayam mentah  diberi tirtha dan dupa dibawah Arca  Sang Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya  menyuruh pergi bhutakala tadi.

*   Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya.

*   Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura, dimulai dengan yang membawa anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa, yang membawa Nyala api  (Oncor Jawa dari bambu), Tirtha suci, bunga, dan lainnya membawa bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya jangan mengganggu manusia.

*   Mengambil  pencok bakal dan ayam caru  dibuang kesungai.

*   Setelah nyurut sesaji  mulailah mebrata bagi yang mampu,  tidak bicara, tidak bekerja, tidak makan satu hari satu malam pada tanggal  1 Tahun Saka, besuk paginya ngembak api artinya menyalakan api, boleh beraktivitas lagi.

5.  Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura

Waktu :    Diadakan tiap tahun  sekali yaitu tiap Purnama Kedasa

Upakara    : Seperti  Upacara Malem Rabu Pon,    Nasi kuning beserta  lauknya.

*  Pisang Ayu, Suruh Ayu dan bunga, jajan pasar

*  Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru).

*  Tiap pelinggih/arca  diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan , kurang lebih  ada 150 Pelinggih/Pesimpangan.

Pelaksanaan

*   Pertama  kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci.

*   Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi.

*   Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya.

*   Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon

*    Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban, diundang menghadiri Upacara Persembahyangan.

6.  Upacara Hari Wetonan Sang Hyang  Semar ( Sang Hyang Ismaya)

Waktu pelaksanaan :

Kamis sore (Malem Jum’at Legi ),  Jam 16.00,  tiap 35 hari seka

Upakara/sesaji

Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja), Pisang Ayu Suruh Ayu  Bunga, Jajan Pasar , Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya.

Pelaksanaan :

Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon, dengan fokus Sang hyang Semar.  Setelah upacara,  makan surudan bersama.

C.  Manusa yajna

Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan, umum juga mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). Sajen   untuk Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau  nasi kuning, sedang untuk Pitri Yadnya biasanya nasi liwet,  ingkung dan nasi asahan.  Cara membuat nasi-nasi tersebut  :

1.   Nasi kuning beserta lauknya

Nasi kuning : beras dikukus, sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir, sere,  salam/daun pandan, garamdan daun jeruk wangi) yang telah mendidih. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi dikukus sampai matang (30 menit).

Lauk nasi kuning ialah  : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering, bregedel, srundeng, sambel goreng basah, irisan telur dadar, irisan timun.

2.   Nasi Gudangan beserta lauknya

Nasi kukus biasa  sedang lauknya ialah  :  gudangan (sayur urap), bongko, pelas, gereh petek, bubuk dele, botok, lodeh keluwih yang cara membuat lauk  sebagai berikut :

*   Gudangan :   sayuran direbus, biasanya kangkung, kenikir, bayam, kacang panjang tidak dipotong, kecambah kacang hijau. Sayuran ini diberi samba   kelapa (Kelapa parut, cabe,bawang putih, kencur, terasi, garam, daun jerut purut, gula Jawa

*   Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus, kelapa muda diparut ditambah garam, ketumbar, bawangputih bawang merah,  kencur, gula Jawa, salam, laos. Semuanya diaduk,  dibungkus dengan daun   pisang dan dikukus sampai matang.(3)  Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam

*   Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar.

*  Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak  ditumbuk sampai halus.

*  Botok : bahan dasar kelapa muda parut  dan daun melinjo, biji lamtoro yang  muda diberi sambel (cabe, garam, tempe bosok/yang sudah 3 hari, gula Jawa,   salam laos, kencur, terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

* Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam, bawang putih, bawang merah, ketumbar, tempe bosok, salam laos, gula Jawa dimasak diberi santan.

3.   Jajan pasar, isinya buah-buahan sad rasa, ada jambu, salak, jeruk, pisang, apel, mangga, pala kependem seperti ketela rebus, kacang rebus, kentang hitam, ubi-ubian, dapat ditambah dawet, jadah, ketan hitam  diberi bunga lima macam mawar merah jambu, kenanga kantil putih kantil kuning, kenanga dan melati.dll.

4. Intuk-intuk :  tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya diberi tumpeng, diatasnya bawang merah dan cabe merah, telur ayam, kluwak kemiri(pakai kulit)

5.   Nasi  Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam

*   Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit, kemudian dimasukkan disantan yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit, sesudah itu dikukus sampai matang (30 menit).

*   Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair mendidih diberi garam, brambang, daun salam dimasak sampai matang.

*   Sambel goreng jepan/labu jepan, jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan bumbu diiris boleh ditumbuk boleh,  garam, cabe merah, bawang putih, bawang merah, ebi/udang kering, daun salam, laos, santan dimasak sampai matang

6.   Nasi  Asahan :  Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya juga diberi samir lagi, diatas samir diberi lauknya melingkar, ditengah lauk yang kering seperti srundeng, rempeyek kacang/teri, krupuk. Diluar lauk basah misal tahu terik, daging ayam terik atau apa saja.

Upacara Manusa Yajna

1.  Upacara untuk Bayi dalam kandungan

a.  Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”.

Sajen/upakara  bubur sumsum ditaruh ditakir.  Bubur sumsum dibuat dari tepung

beras diberi  garam, santan dan dimasak. Sesudah matang ditaruh ditakir   dituangi

gula Jawa cair. Maksud upacara ini agar ibu dan  bayi dalam kandungan sehat.

b.  Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan   rujak dan ketupat.

Rujak, dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah, bangkuang, pepaya

setengah matang, kedondong, pisang klutuk mentah  dll. diberi saus rujak  (gula,

cabe, terasi garam dan asam air sedikit, diuleg/digilas)  Ketupat, beras dimasukkan

diselongsong ketupat dimasak sampai matang.

c.   Bayi dalam kandungan 5 bulan. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di

layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir)

d.   Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan.

e.   Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan).

Sajen/upakara :  7 buah Tumpeng Gudangan,7 buah Pontang/takir  (Nasi kuning beserta lauk srundeng, irisan telur dadar, bregedel, sambel goreng, ditambah  lele dan udang goreng), 7 buah ketupat, 7 takir rujak, 7 takir  butiran ketan 5 warna ( putih, merah, kuning, hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut ditambah gula Jawa/gula merah  dimasak), 7 buah nasi layah.

Upacara mitoni begitu unik :,

*   mohon doa restu  para orang tua

*   siraman, disirami dengan diiringi doa  oleh 7 orang-orang tua

*   Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih, satu dibelah sekalitebas supaya terbelah oleh suami yang mengandung.

*   Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana.

*   Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram .

*   Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan  lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar.  Doa bersama

f.   Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen :

-    bubur procotan, bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh.

Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat.

-    Bubur merah putih :  bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu

sendok bubur putih)

-    Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus

-    Intil  : katul dibuat butiran dan dikukus.

2.  Upacara bayi lahir

a.    Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. Bali)

Sajennya :  Nasi gudangan, Jajan pasar, Intuk-intuk (uraian  tersebut diatas)

Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai  weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya, setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas.

b.   Hari kelima = Sepasaran Bayi

Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi, biasanya diadakan  bancakan(pesta) untuk anak-anak balita.

c.   Puput puser = lepasnya ikatan puser

Sajen sama, bayi dijaga seharian, kadang-kadang bayi sering menangis.

d.     Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton

e.   Tedak siti =  7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus

Saat   bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi, sesajinya :

-   Nasi gudangan, jajan pasar dan intuk-intuk

-   Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga

-   Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih, merah, kuning,  hitam, hijau, biru dan coklat(gula jawa), ini untuk menapak  kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung.

-   Kurungan ayam berisi ayam dan  barang  mainan untuk bayi.

Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu kemudian  naik tangga satu persatu anak tangga. Kurungan diberi ayam, secara bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut, terakhir didalam kurungan ada bayi yang diberi mainannya. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi.

3.   Upacara sewindu anak  (8 tahun Jawa)

Sajen sama dengan wetonan, biasanya ada pesta kecil.

4.   Upacara  anak naik dewasa :

Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. Sajen seperti wetonan. Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang dibakar dengan maksud  supaya segar dan  badannya tetap langsing.

5.   Upacara Perkawinan/Pawiwahan

Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin wanita. Dilaksanakan upacara siraman, midodareni dan panggih. Secara garis besar yang dibicarakan disini adalah sesajinya.

*   Siraman dengan sajen :  Nasi Gudangan, Jajan pasar, Ingkung panggang

*   Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon  turunnya bidadari  memberi berkah pada pengantin.

*   Upacara pewiwahan/perkawinan  ke Surya,   daksina, nasi liwet, ingkung, gedang ayu suruh ayu bunga.  Sedang untuk  Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh ditanah : (a)  pencok bakal  satu takir, (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah  satu takir dan  (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah

PITRA YAJNA

1.  Hari meninggalnya seseorang

Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar

Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an, nas gudangan tanpa cabe, nasi liwet dan ingkung    sebagai nasi untuk permintaan maaf, nasi asahannasi golong sati, lauk ayam goreng,  tempe goreng, ditaruh pinggir melingkar maksudnya   supaya golong  bulat kembali kepadaNya,  nasi iber-iber.

Pelaksanaan persembahyangan, dilaksanakan semua umat, untuk penghormatan (sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya.

2.  Slametan/Wilujengan :

Wilujengan/slametan untuk 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak (1 tahun Jawa). Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya, selalu dengan nasi liwet dengan ingkung, pisang ayu suruh ayu. Untuk selamatan 1000  hari orang meninggal ini  diadakan upacara khusus. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong, ungkur-ungkuran dan nasi iber-iber. Sajen ditambah dengan ketan kukus, kolak dan apem, ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk   leluhur.

Butha Yajna

Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.

Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang tidak kelihatan biasanya disebut guwakan, yang wujudnya bahan-bahan mentah disebut pencok bakal. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah ditambah yang ditengah. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan), perempatan dll.

Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi  Kraton Surakarta dulu  selain membuat guwakan, untuk menjaga kelestarian hidup binatang  seperti burung, semut, tikus dll. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang itu. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon, untuk semut diberi gula dipojok Bangunan Kraton.

BAB  VII

TEMPAT SUCI

A.  Pengertian

Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan persembahyangan, tempat untuk bersujud, berbakti, menyembah lahir maupun batin kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas.

Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta antara lain mandira, dharmashala, devalaya, devagriha, devabhawana, Ssivalaya dll. Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu untuk mensucikan diri lahir maupun batin.

B.   Fungsi tempat suci/tempat pemujaan

1.  Tempat Suci berfungsi sebagai

-   tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya

-   tempat mengabdi dan berbakti  kepada-Nya.

-   tempat memohon tuntunan dalam hidup

-   tempat memohon pertolongan

-   tempat untuk memohon ampunan

-   tempat  untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya

-   tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa.

2.   Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai :

-   sarana  pendidikan agama (perpustakaan, pesantian),

-    pelatihan sosia, seni,  budaya &  agama seperti dharma wacana, dharma tula,

sarasehan,  pelatihan pembuatan upakara (banten,sesaji), dll.

C.     Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu

Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. Disamping istilah Pura, Candi juga nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha.

1. Gunung

Oleh umat Hindu,  gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. Di India gunung Maha Meru, di Jawa gunung Semeru, di Bali gunung Agung adalah simbol alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta segala manifestasinya. dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala manifestasinya.  Bagian bawah gunung alam  Bhur, bagian tengah  alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam

Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan :

” Bhatara Siwa = suwung

Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi, yen karingkes

dados meru ndi Himalaya, yen karingkes malih dados meru kadi ring

tanah  Bali,  yen karingkes malih dados tiyang

Artinya

” Bhatara Siwa = suwung

Sifat kasarnya berbentuk dunia, dianggap berbangun gunung, jika

diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya),  kalau diringkas lagi

menjadi Meru seperti di Bali, makin diringkas lagi menjadi manusia.

Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb.:

”Bhatara Siwa = suwung

Sipat ipun ikang halus, inggih punika alusing donia, yen karingkes dados

alusing ndi meru, yen karingkes dados alusing meru, yen karingkes malih

dados alusing manusya”

Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya dibangun dekat dengan gunung, orang bersembahyang menghadap gunung.

2. Lingga

Lingga adalah  lambang Siwa. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya.

Kitab Bhagawad Gita  IV ; 11 menyebutkan

”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma

’nuvartante manusyah partha sarvasah”
Artinya

Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana-

mana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha”

Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan :

  1. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu)
  2. Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas)
  3. Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata)
  4. Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu, terdapat di India)
  5. Lingga cala (lingga sebagai gunung)
  6. f. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali.

Bentuk  suatu lingga

  1. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga, merupakan simbol stana atau linggih Bethara Siwa
  2. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol stana atau linggih Hyang Wisnu.
  3. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan simbol stana atau linggih Bhatara Brahma.
  4. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti pancuran. Dasar lingga disebut Yoni

Siwabhaga, Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Pertemuan Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya kesuburan. Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber kemakmuran..

3.   Candi

Menurut Dr. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II   kata Candi berasal dari kata Candika.  Candika merupakan salah satu nama lain dari nama  Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga atau tempat pemujaan Dewi Durga. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Hiasan Candi sesuai dengan alam gunung, ada bidadari-bidadari, bunga-bunga teratai, daun-daun dan sebagainya (Soekmono, 1973:84).  Nama lain dari Candi adalah Prasada, Sudharma dan Mandira.

Dr. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti :

a.   Candi yang berfungsi  tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya :

Candi Dieng, Candi Prambanan, Candi Penataran  dll.

b.   Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci :

candi Kidal,  Candi Jago, Candi Singosari, Candi Simping dll

c.   Candi yang berfungsi  sebagai tempat semedi  :

Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi

Sari dll.

4.  Meru

Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos)

DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan :

“ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran

pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa

panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak  Meru ngaran pratimbha

anda  bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit.

Artinya

Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna

pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa,

penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur)

Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana).

Kesepuluh huruf itu ialah (1)  Sa bertempat di arah timur

(2)  Ba bertempat di arah selatan

(3)   Ta bertempat di arah  barat

(4)   A bertempat di arah utara

(5)   I bertempat ditengah

(6)  Na bertempat diarah tenggara

(7)   Ma bertempat diarah barat daya

(8)  Si bertempat di arah  barah laut

(9)   Wa bertempat diarah timur laut

(10)  Ya bertempat ditengah.

Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om  (Ongkara).

4.    Pura

Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995  Pura artinya kota, negeri atau istana.. Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu.

Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur (bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura berfungsi  tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil dan sebagainya.

Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr. Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga (kahyangan).  Titib juga mengungkap  dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. :

Prasabam vacchiva saktyatmakam

Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih

Saivi  murtih khalu devalayakhyattyasmad

Dhyeya prathamam cabhipujya

Isanasivagurudevapaddhati   III. 12. 16

Terjemahan :

” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang  Siva dan Sakti dan

kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen

hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi)

Sang Hyang Siva  merupakan  Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang

melakukan perenungan dan memuja-Nya.”

Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada para Devata turun ke  bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp, 2003 : 291-293).

3.   Kuil, Mandir

Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi.

Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya.

4.   Balai Antang

Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali. Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang bersifat sementara.

5.   Balai Kaharingan

Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan adalah  untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya.  Balai Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan.

6.    Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai berbentuk pelinggih rong satu.  Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan).

7.    Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar  pohon cendana  dan pohon andong.  Pak Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa (seperti Pura Desa di Bali).

8.    Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja  dengan ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung.

9.    Inan Kepemalaran Pak Pesungan

Ini  adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali).

10.    Sanggar

Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.

11.    Payuh-Payuhan

Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Payuh-Payuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat,  biasanya dibangin didekat mata air dan untuk persembahyangan bersifat umum. Fungsinya stana roh leluhur yang telah disucikan.

12.     Cubal-cubalan

Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Bentuknya seperti pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. Tujuannya untuk melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi.

D.    Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan

1.    Syarat pendirian Tempat Suci (Pura)

1.  Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama

N0. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri

No. SK.556/DJA/1986 isinya ………..

2. Weda, Lontar, Awig-Awig, Bhisama, Keput. Mahasabha ke VI  13 Desember

1991 di Jakarta a l :

2.    Prosedur mendirikan tempat suci

a.  Persiapan

*.  Membuat  Yayasan  yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan

pengelolaan tempat suci  yang akan didirikan.

*.  Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan

*.  Tanah tidak dalam keadaan sengketa

*.  Status tanah bersertifikat

b.  Pengurusan sertifikat

*.  Pengurusan sertifikat tanah

*.  Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah

*.  Melampirkan denah

3.   Denah Pura

Secara umum  Pura (Tempat suci)  terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) :

*.  Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci

*   Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan

*   Kanista Mandala (halaman luar)  tempat untuk  upacara keagamaan.

Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok, untuk masuk halaman pertama melewati gapura, halaman pertama ini biasanya kosong. Untuk masuk halaman kedua melewati gapura yang beratap dinamai  Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang aling (aling-baling) didepan gapura  (untuk masuk harus lewat  kiri kanan bintang aling). Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar.

Tiga Mandala melambangkan bhur loka, bhuah loka dan swah loka. Apa  bila tanah nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan  alam atas atau akasa dan pertiwi atau alam bawah. Bila hanya satu halaman  melambangkan Eka bhuana. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang melambangkan Sapta Loka, Bhur, Bhuah Swah, Maha, Jana, Tapa dan Satya Loka.. Candi Ceto terdiri 13 halaman.

E.   Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan.

1.  Prasada

Bentuknya seperti tugu, terdiri dari tiga bagian, dasar, badan dan atap  memakai gelung seperti mahkota. Fungsi Prasada pemujaan Hyang  Widhi. Prasada ini terdapat di Pura Prasada desa Kapal (Badung), Candi  Margarana, Pura Maos Pahit Desa Tatasan Badung.

2.   Meru

Bangunan Meru ini  biasanya beratap ijuk, ada meru atap satu atap dua, atap tiga, lima tujuh, sembilan dan sebelas. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru terbuat dari kayu. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya.

3.  Gedong

Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar, terdiri tiga bagian dasar, badan dan puncak atau atap. Bagian dasar terbuat dari batu bata,  padas, bagian badan terbuat dari batu bata atau dari kayu, bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva. Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng.

4.  Rong Tiga

Bangunan Rong Tiga ini  hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar. Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan.

5. Tugu

Tugu  hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. Fungsi Tugu adalah tempat bersemayamnya bhuta  diberi sesaji agar tidak  mengganggu bila dilaksanakan upacara. Letaknya diluar halaman pura.

6. Padmasana

Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta  di Bali abad ke 16 Masehi. Di Jawa,  Padmasana  berbentuk bunga Teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi. Padmasana  di Bali bibangun seperti singgasana/kursi Raja .

Jenis Padmasana :  Padmasana, Padmasari, Padma Capah, Padma kurung

Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider :

  1. a.    Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara
  2. Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma
  3. c.    Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara
  4. Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu
  5. e.    Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva Sambhu
  6. f.    Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva Mahesora
    1. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut  stana DevA Mahadeva
    2. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva Sangkara
    3. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana Trimurt

Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya :

  1. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura) dengan Palih tujuh
  2. Padma Agung, beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih lima
  3. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan
  4. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk yang lebih rendah dari manusia.

BAB VIII

PANDITA DAN PINANDITA

A.  Pandita

Mengenai  Pandita atau  Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan  Brahmana.

Manawa Dharmasastra I.96 menyebutkan :

Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam

Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih

Artinya

Diantara ciptaanNya, mahkluk hidup yang paling tinggi. Diantara mahkluk hidup yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. Diantara yang punya pikiran manusialah yang paling tinggi. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi

Manawa Dharmasastra  I. 97 menyebutkan :

Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah

Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah

Artinya  : Diantara para Brahmana, yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Diantara yang ahli Weda, yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang tertinggi, Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah ditentukan, yang melaksanakan adalah yang tertinggi. Diantara yang melaksanakan upacara, yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi

Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya, bahasa dan kemampuan daerah. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan, pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian, ekajati maupun upacara dwijati,  masuk budaya daerah setempah yang bermacam-macam  begitu pula tentang jenis upakaranya.                                                                                                                                  

1.   Pengertian

Pandita, wiku, Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah mendapatkan upacara penyucian  (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan oleh seorang Nabe. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta warganya ialah  Ida Pedanda, Ida Rsi Bhujangga, Rsi, Ida Pandhita, Ida Sri Empu, Ida Bhagawan, Dukuh.                                             

Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang disebut Brahmana. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari pelaksanaan tugas kesehariannya. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat hukumnya, sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang Brahmana.  Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan.

Manawa Dharmasastra I.96 menyebutkan

Bhutanam paninah,sresthah praninam buddhijiwinam

Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah

Artinya

Diantara semua ciptaanNya, makhluk hidup adalah yang paling tinggi.

Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi.

Diantara yang punya pikiran, manusialah yang paling tinggi.

Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi.

Manawa Dharmasastra  I.97 menyebutkan

Brahmanesu  ca widwamso widwastu krta buddhayah

Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah

Artinya

Diantara Brahmana, yang ahli weda adalah yang tertinggi. Diantara ahli weda, yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Diantara yang mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan, yang melaksanakan upacara adalah yang tertinggi. Diantara yang melaksanakan upacara, yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Inilah yang disebut Brahmana sejati.

2.  Sesana Pandita

Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau   Sulinggih harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu  :

Umat Hindu  yang boleh didiksa :

  1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari)
  2. Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya)
  3. Pasangan suami istri
  4. Umum minimal 40 tahun
  5. Paham dalam bahasa Kawi, Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum, pendalaman intisari ajaran agama
  6. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana
  7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana
  8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan
  9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan.

Sifat-sifat Calon Sulinggih

  1. Bersifat sosial
  2. Bijaksana
  3. Setia pada ucapan
  4. Memiliki kesusilaan
  5. Teguh pada dharma tanpa noda
  6. Keturunan orang baik-baik
  7. Pandai dalam ilmu
  8. Berjiwa besar
  9. Tegas dalam siasat
  10. Kuat menahan suka dan duka
  11. Setia dan hormat pada catur guru
  12. Suka melaksanakan ajaran Dharma
  13. Teguh melakukan tapa

Orang yang tidak patut didiksa

  • Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat tubuhnya, orang yang sangat mendertita
    • Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor
    • Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka
    • Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu
    • Chandala berarti menjagal, melempar, memukul
    • Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll)
    • Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar  harus dipersiapkan calon diksika  sesuai deng

Tri Kaya Parisudha

  • Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik
  • Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik
  • Manacika  Parisudha  artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata

  • Ahimsa  artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain
  • Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu
  • Satya  artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur
  • Awyawaharika  artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu.
  • Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain

Panca Niyama Brata

  • Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan
  • Guru Susrusa  artinya berbakti pada Guru
  • Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa
  • Aharalagawa artinya tidak banyak makan
  • Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila

  • Drti artinya pikiran bersih
  • Ksama artinya suka mengampuni
  • Dama artinya kuat mengendalikan pikiran
  • Asteya artinya tidak mencuri
  • Sauca artinya bersih lahir dan batin
  • Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra
  • Hrih artinya memiliki sifat malu
  • Widya artinya rajin menuntut ilmu
  • Satya artinya jujur dan setia pada ucapan
  • Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain

a.Tri Mala

  • Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk.
  • Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji
  • Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b.  Sad ripu

  • Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali
  • Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih
  • Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas
  • Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan
  • Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi
  • Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c.   Sad Atatayi

  • Agnida artinya membakar milik orang lain
  • Atharwa artinya melakukan ilmu hiram
  • Dratikrama artinyaaa memperkosa
  • Rajapisuna artinya memfitnah
  • Sastraghna artinya mengamuk
  • Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

  • Dana artinya sombong karena kekayaan
  • Guna artinya sombong karena kepandaian
  • Kasuran artinya sombong karena kemenangan
  • Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan)
  • Sura artinya minum-minuman keras
  • Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik
  • Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3.   Guru Nabe

a.  Syarat-Syarat Nabe

  • Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin
  • Mampu melepaskan diri dari keduniawian
  • Tenang dan bijaksana
  • Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci  Weda
  • Mampu membaca Sruti dan Smerti
  • Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b.  Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe

  • Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang demikian disebut Sadkaka kroda.
  • Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha)
  • Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan)
  • Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki, (Sadhaka Capala Wus Wus)
  • Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi)
  • Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka)
  • Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga)
  • Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa)
  • Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu)
  • Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c.   Kewajiban seorang Guru Nabe

  1. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa
  2. Memberi peringatan kepada para sisya  tingkah laku yang benar dan salah
  3. Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama
  4. Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa

  1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika
  2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag)
  3. PHDI mengadakan testing
  4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima
  5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima
  6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.

B.  Pinandita

1. Pengertian

  • Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati
  • Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama Hindu pada masyarakat
  • Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten) dalam upacara agama/adat, dapat ngolapalasrayaseraya sebatas ijin/panugrahan dari Nabe/Guru.
  • Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya

2.   Tingkatan Pamangku

    • Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan, Dang Kahyangan,
      • Kahyangan Tiga,  Paibon, Panti, Padharman, Merajan, Gede dll.
    • Pamangku Dalang

3. Sasana Pamangku

a. Gegelaran Pamangku

*   Gegelaran/Agem-agem  Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa,

Sangkul Putih  disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya.

* Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning

Padalangan, Panyudamalan dan Nyapu Leger

b.  Hak seorang Pemangku/Pinandita

*.  Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten

*   Dapat menerima pembagian sesari

*   Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura

c. Wewenang Pamangku

*   Nganteb  Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya

*   Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit, sesuai tingkat

pewintenannya, dan juga atas panygrahan nabe.

*   Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut :

wenang agotra, berambut panjang, anyondong, memakai destar.

4..  Bebratan Pemangku

a.   Tri Kaya Parisudha :   Manacika, Wacika dan Manacika

b.   Catur Paramita :   –   Metria (kasih sayang pada semua mahkluk)

        • Karuna  (welas asih pada semua mahkluk)
        • Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka
        • Upeksa teliti, waspada tidak gegabah dalam kejadian

c.  Yama Brata     : Ahimsa, Brahmacari, Awyawahara, Satya, Asteya

Niyama Brata : Akroda, Gurususruca, Sauca, Aharalagawa, Apramada

5.   Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya

1.  Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa

2.  Mendiskusikan pengetahuan, filsafat dan agama.

3.  Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda

4.  Selalu jujur, tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata,

5.  Tidak memfitnah, berbohong dan menghina, mencerca pemangku lain

BAB  VIII

SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA

A.  SUDI WADANI

1. Pengertian

Sudi    artinya penyucian, wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata.

Sudi Wadani artinya penyucian perkataan

Upacara Sudi Wadani adalah upacara  penyucian  untuk menjadi umat Hindu.

2.   Tata Cara Upacara Sudi Wadani

a.  Membuat surat pernyataan penyucian yang sah.

b.  Melaksanakan upacara

-  Utama  : mempergunakan  banten biyakala, prayascita, tataban .

-.  Madya  : mempergunakan Bhasma air cendana

-   Nista     :  mempergunakan air , bunga, bija.

c. Pelaksanaannya selalu disertai dengan api.

3.  Mantra Om Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya, Ang Ung Mang

B.    P E N Y U M P A H A N

1.   Pengertian

Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang.

2.  Bentuk Upacara Upasaksi

a.  Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil.

b. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di Pengadilan.

c.  Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang mempergunakan mantram Aricandani.

3.   Pelaksanaan Upasaksi

a.  Upasaksi Sumpah Jabatan

*   Pengambilan sumpah  oleh Pejabat yang ditunjuk

*   Yang akan disumpah berpakaian dinas

*   Sikap yang akan disumpah

-   untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa

-  Anggota ABRI sikap sempurna

*   Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk), dengan sikap tangan

”Dewa Prestistha”

Mantram : Om atah paramawisesa, saya bersumpah …..   sesuai ketentuan.

Bila memungkinkan dengan sarana Daksina, canang sari dan air suci.

b.   Upasaksi/Sumpah di Pengadilan

*   Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk

*   Yang disumpah berpakaian sopan.

*    Sikap yang akan disumpah

-  Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa

-   Anggota ABRI sikap sempurna

*    Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri  dengan sikap ”Dewa Prastistha”

c.   Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor :

*   Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk

*   Tempat pelaksanaan di Tempat Suci

*  Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat

*   Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan

C.      C U N T A K A

1.   Pengertian

Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu

2.Penyebab Cuntaka  (sebel –istilah Bali)

  1. Sebel  karena kematian
  2. Sebel  karena haid
  3. Sebel karena wanita keguguran kandungan
  4. Sebel karena sakit (kelainan)
  5. Sebel karena perkawinan
  6. Sebel karena gamia gamana
  7. Sebel karena  wanita hamil tanpa byakaon
  8. Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang)
  9. Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara

10.  Sebel karena melakukan Sad Tatayi.

3.Ruang Lingkup, dan batas waktu  Cuntaka(sebel):

  1. Kematian :  keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah,  sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta.
  2. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya, sampai bersih  darah dan membersihkan diri.
  3. wanita bersalin : diri pribadi, suaminya danrumah yang ditempatinya, sampai kepus puser (putus pusernya)
  4. keguguran :  diri pribadi, suaminya dan rumah yang ditempatinya, 42 hari dan mendapat tirtha pebersihan.
  5. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya, smpai mendapat tirtha pebyakaonan.
  6. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya.
  7. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya, sampai diceraikan, diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat.
  8. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya, sampai diadakan upacara byakaon
  9. Mitra ngalang : diri  pribadi dan  kamar tidurnya, sampai upacara byalaon

10.  orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. Anak dan rumah yang ditempati, sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara agama)

11.  Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi, sampai diprayascita dan selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan.

  1. 3. Larangan bagi yang cuntaka (sebel)

Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci.

BAB IX

HARI SUCI AGAMA HINDU

A.   Pengertian Hari Suci

Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. Bali)  adalah hari yang diistimewakan, dirayakan atau diperingati  berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh  dalam kehidupan.

B.    Hari Suci Agama Hindu

1.  Dasar perhitungan Hari Suci

Selain hari suci yang bersifat haarian, asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain :

  1. a. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari, nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda  seperti Eka wara (luang), Dwi Wara (menga, pepet) Tri Wara (pasah beteng, kajeng), Panca Wara (Pon,, Wage, Kliwon, Legi, Pahing), Sapta Wara (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu)
  2. b. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar), seperti Hari Purnama dan Tilem , Panglong  atau penanggal.
  3. c. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman.
  4. d. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planet-planet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia.
  5. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari

Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar   dan sistem  kekuatan  yang ada

Dari kitab Purana, Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb.:

  1. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya  atau Surya. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday.
  2. Hari Senin  (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau   Candra atau bulan. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”, bulan sabit didahi Dewa Siwa. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday.
  3. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara
  4. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang).
  5. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter).
  6. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura
  7. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam, dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday

Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci, hanya nilai-nilai dan  tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya.

  1. 2. Jenis Hari Suci Rerahinan
  2. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu :
  • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa”  yaitu mempersembahkan makanan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur, sumber air, pemerajan, sanggah dll.
  • Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari
  1. b. Naimitika  Karma adalah upacara yang bersifat relatif, dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu, seperti Dewa Yajna, Manusa Yajna dll.

3.   Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan

Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan :

Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin, ri sawateking purohita kabek, maka drstaning praja mandhala, wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat, wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh, nimittaning drsta prajanira sri haji, tkeng kajagatanika, apan parikramaning dahat suksma uttama, iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh, wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa, Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit, winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma, andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata, rengen warahkwa ri kitanaku, an linging aji sundhari gama

Artinya :

Inilah kebiasaan  pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan, sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin, kepada Para Purohita, demi untuk kesejahteraan jagat raya, agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia, harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja, sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera, karena melaksanakan hal-hal yang utama. Ini semua diterima oleh para dewa, demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa, Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma; demikian perintah-Ku sabda Bhatara, Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku, begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama.

Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. Pelaksanaannya memiliki ketentuan pada hari-hari tertentu  dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian  yaitu :

1)  Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari

Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang Surya waktu matahari terbit), persembahyangan Trisandya, Tapa Yajna, Yoga Yajna, Swadhyaya Yajna, Dhyana Yajna dll.

2)   Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara

  1. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi)
  2. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada  Hyang Siwa dan segehan pada Sang Hyang Durga Dewi.

3)   Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara

  1. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu, Hyang Ludra
  2. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. Yajna untuk Sanggah Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia.
  3. Budha Kliwon  untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu
  4. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara.
  5. Untuk di Jawa  Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk tirakat.

4)   Hari Raya  berdasar pawukon

  1. Sinta

*  Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana)

*  Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa

*  Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta)  Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai

Dewata Nawa Sangga

b.   Landep

Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang

Hyang Pasopati

c.  Ukir

Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan

d.  Kulantir

Anggara Kliwon  Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa

e. Wariga

Saniscara Kliwon Wariga, Tumpek Penguduh atau Pengatag, Pengarah

Bubuh, untuk kemakmuran,  persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan

menghormati tumbuh-tumbuhan

f.  Warigadian

Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma

g.  Sungsang

*   Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan

Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung)

*   Sukra Kliwon  (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara

(Bhuana alit)

h.  Dungulan

Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam

semesta seisinya dan  kemenangan dharma melawan adharma.

i.   Kuningan

*   Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan

*   Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada

Bhutakala

*   Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu

*   Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan)

j.   Pahang

Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal

k.  Merakih

Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara

Rambut Sedhana penguasa artha, mas perak permata.

  1. Uye

Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang Hyang Rare Angon

m.   Wayang

Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara

  1. Watugunung

Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati

  1. Sinta

Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati)

5)  Hari Raya berdasar Pasasihan

a.  Purnama Tilem

Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga, pada waktu tilem Hyang Surya

beryoga, jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Pada

waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa, waktu gerhana matahari

dengan Suryacakra Bhuanastawa.

b.  Sasih Kapat

Purnama Kapat, Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara)

Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa.

c.   Sasih Kapitu

Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri, beryoganya Sang Hyang Siwa, umat

Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri, mona brata, jagra dan upawasa

d.  Sasih Kesanga

Tilem kesanga  pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur

Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka

e.  Sasih Kedasa

Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau

Tahun Baru Saka, turunnya Sang Hyang Dharma.

Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad

Kahyangan Wisesa .

  1. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan

TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKON

N0 Wuku Sapta wara Panca Wara Hari Raya
1. Sinta Radite

Soma

Anggara

Buda

Pahing

Pon

Wage

Kliwon

Banyu Pinaruh

Soma ribek

Sabuh Mas

Pagerwesi

2. Landep Saniscara Kliwon Tumpek Landep
3 Ukir Radite

Buda

Umanis

Wage

Persembahan Bhatara Guru

Buda Cemeng Ukir

4. Kulantir Anggara Kliwon Anggara Kasih Kulantir
5 Tolu
6. Gumbreg
7. Wariga
8. Warigadian Budha Wage Budha Ceemeng Warigadian
9. Julungwangi Anggara Kliwon Anggara Kasih Julungwangi
10. Sungsang Wraspati Wage Sugihan Jawa/Parerebuan
11. Sukra Kliwon Sugihan Bali
12. Dungulan Anggara Wage Penampahan Galungan
Budha Kliwon Galungan
13. Kuningan Radite

Soma

Sukra

Saniscara

Wage

Kliwon

Wage

Kliwon

Ulihan

Pemacekan Agung

Penampahan Kuningan

Kuningan

14. Medangsia Anggara Kliwon Anggara Kasih Medangsia
15. Pujut
16. Pahang Budha Kliwon Pegatwakan
17. Krulut Saniscara Kliwon Tumpek Krulut
18. Merakih Budha Wage Budha Cemeng Merakih
19. Tambir Anggara Kliwon Anggara Kasih Tambir
20. Medangkungan
21. Matal Budha Kliwon Budha Kliwon Matal
22. Uye Saniscara Kliwon Tumpek Kandang
23. Menail Budha Wage Budha Cemeng Menail
24 Prangbakat Anggara Kliwon Anggara Kasih Prangbakat
25 Bala
26. Ugu Budha Kliwon Budha Kliwon Ugu
27. Wayang Saniscara Kliwon Tumpek Wayang
28.

29.

30.

Klawu

Dukut

Watugunung

Budha

Sukra

Anggara

Saniscara

Wage

Umanis

Kliwon

Umanis

Budha Cemeng Klawu

Wedalan Bhatara Sri

Anggara Kasih Dukut

Saraswati

C.   Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci  Oleh Umat Hindu  di Indonesia

  1. 1. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka

Hari Raya Nyepi  atau Tahun Baru Saka  sekarang dijadikan Hari Besar Nasional keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi, tahun Baru Imlek, Tahun Baru Muharam. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX (kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret, ini merupakan pergantian tahun Icaka(Icaka Warsa).

Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam, yang maksudnya berdiam diri, menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut :

  1. a. Melasti

Waktu     :     Melasti dilaksanakan  tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi.

Makna    :     Melasti atau Melis atau Mekiyis   mempunyai makna  pensucian

Tujuan     :     Mensucikan diri, mensucikan kembali symbol-simbol suci

keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi.

Tempat    :     Melasti untuk melaksanakn dilaut, danau  atau mata air yang

Laut, danau atau mata air  dianggap tempat Tirtha Amerta,

Tempat  Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi

dalam aspek  sebagai  pelebur dosa malapetaka dan bencana.

Pelaksanaan:  semua Arca, Pratima, Nyasa atau Pralingga yang merupakan

wujud  atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya

diusung kelaut  atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada

Hyang Baruna  untuk disucikan  Disamping itu juga memohon

tirtha amertha untuk  pensucian alam semesta seisinya, serta

memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan

.kepada umat manusia.

b.  Pecaruan  (Bhuta Yajna)

Waktu       :   pagi hari,  sehari sebelum hari Nyepi

Makna       :   menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala

Tujuan       :   Agar bhuta kala tidak menggaggu  ketentraman  manusia.

Tempat      :   diperempatan jalan atau didepan rumah.

Pelaksanaan:  memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah

kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan

c.   Pengrupukan

Waktu       :    Malam hari setelah pecaruan

Makna       :   mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa     malapetaka

Tujuan      :    Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata

Nyepi  dan supaya tentra  sejahtera ditahun yang akan datang

Tempat     :    mengelilingi rumah atau kampong

Pelaksanaan: dengan membawa  dupa, obor, mesui, tirtha pelukatan, sapu,

tabu-tabuhan  yang digunakan untuk mengusir dan  bhuta kala

membersihkan  lokasi dan  diantarkan sampai perempatan jalan.

d.  Nyepi

Waktu          :   Tgl. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam.

Tempat         :   Dirumah atau mencari tempat sepi

Makna          :   Menyepikan diri, memadamkan api hawa nafsu.

Tujuan          :   Agar dapat mengendalikan diri, untuk mendapatkan

ketenangan, kedamaian  dan kebahagian.

Pelaksanaan :   Melaksanakan catur brata

  • Amati Agni   (mati geni) :  berpuasa dan tidak menyalakan api
  • Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci
  • Amati  Lelanguan  :  langu artinya indah, tidak menikmati keindahan
  • Amati Lelungan :  tidak bepergian.

e.  Ngembak api

Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api, artinya menyalakan api kembali, ini juga disebut labuh brata, atau lebar puasa. Pada waktu ngembak api dapat dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga untuk saling memaafkan. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah atau secara nasional.

2.  Hari Siwa Ratri

Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hari Raya ini dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari)  yaitu sehari sebelum bulan mati (tilem).

Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi” semalam suntuk dengan tidak tidur, berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici.

Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci  dan taat melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha Esa. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan Empu Tanakung.

3. Hari Saraswati

Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian.

Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung.  Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik, penuh  keindahan, kelembutan, menarik, dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi” membawa :

  1. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung
  2. genitri, simbol  kekekalan
  3. c. pustaka suci :  simbol  sumber ilmu pengetahuan
  4. d. duduk diatas  bunga teratai symbol kesucian
  5. dihadap oleh angsa symbol  kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk
  6. dan burung merak symbol kewibawaan

Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi Saraswati. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan)

4.   Hari  Pagerwesi

Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawa- Nya  sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan  alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. Umat Hindu hendaknya waktu ini menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi kebahagiaan dan kesentaosaan hidup.

Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari) sekali.. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi.

5.   Hari Raya Galungan

Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh Ida Sang Hyang WIdhi. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). Dirayakan  pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton),  dengan menghaturkan puja bhakti, menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta manifestasi-Nya

Pelaksanaan perayaan hari Galungan, melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya, bertempat  di  Pura  atau  dirumah.

Sehari sesudah hari Galungan,  umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan.

6.   Hari Kuningan

Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali, setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan yaitu 10 hari setelah Hari Galungan.  Hari ini merayakan kembalinya para Dewa, Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam semesta seisinya.

Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji nasi kuning.

DAFTAR PUSTAKA

Bangli, IB. Putu, 2004, Agama Tirtha & Upakara, Surabaya : Paramita.

Bimas Hindu dan Budha, Dirjen, 2000, Manggala Upacara, Jakarta :Departemen   Agama RI

Nala, Ngurah, 2005. Acara, Denpasar :. Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

———————–   Etika Hindu :  Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia.

Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda,  2003, Agem-Ageman Kepemangkuan,  Surabaya : Paramita.

Pendit, Nyoman S., Bhagawadgita, Denpasar : Dharma Bhakti.

Puja, Gde, MA SH, 1973  Manawa Dharmasastra (Weda Smerti)

Parisada Hindhu Dharma, 2002,  Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu  Denpasar.

Sudirga Ida Bagus, dkk. 2007  Widya Dharma Agama Hindu, Ganesa Exact.

Sudharta, Tjok Rai, 1993, Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan, Denpasar : Yayasan Dharma Naradha.

Sanatana Dharmasrama, Yayasan, 2003, Intisari Ajaran Agama Hindu,

Surabaya : Paramita.

Sudarsana, IB. Putu, Drs. MBA. MM.,  1998, Filsafat Yadnya, Denpasar

Panakom Publishing.

Sri Rahayu, Nukning Dra, Msi, 2006, Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura , Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses), Denpasar : UNHI

Tambang Raras, Niken, 2005,  Yajna  Sesa,  Surabaya : Paramita.

Wijaya, Gede, 1981. Upacara-Yadnya Agama-Hindu, Denpasar : Setia Kawan.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: