Skip to content

TOUR KE NEGERI CINA

13 September 2010

TOUR KE NEGERI CINA

“ Bu, buat paspor, kapan kapan kita bisa keluar negeri” begitu Cicik anakku menyarankan, itu pertama kali tahun2006. Katanya akhir tahun mau ke Singapura akan diajak. Tapi karena suatu hal nggak jadi. Akupun waktu itu belum membuat paspor.

Juli 2007 Satria pindah ke Cina, aku mengantar ke Bandara Juanda. Cicik menyarankan lagi supaya aku membuat paspor, Desember bias sama-sama pergi keCina. Aku berpikir beaya ke Cina kan mahal apa yang akan dipakai untuk itu. Suatu hari aku bertemu dengan teman kakak klas di IKIP dia sudah pensiun dia mengatakan bahwa bila akan pensiun mendapat penghargaan 3 kali gaji. Wah inilah kemudian aku bel Cicik bahwa aku ikut tapi aku hanya urun perjalanan 3 juta saja dan untuk sangu aku sedia 3 juta. Segera kupersiapkan membuat paspor dan persiapan baju-baju sekedarnya.

Tgl 30 Nopember 2007 aku jadi mendapat uang penghargaan bagi pegawai negeri yang menjelang pensiun 3 X gaji.  Uang itu  diserahkan padaku langsung oleh bapak Walikota Ir. Djoko Widodo dalam upacara di lapangan kota barat aku bersukur pada Tuhan  akau mau tamasya menikmati hasil jerih payahku walaupun masih banyak disubsidi oleh anak.

Rencana pergi ke Cina tgl 21 Desember 2007, waktu saat solstis saat dimana matahari berada dalam lintasan lintang paling selatan. Biasanya kami melaksanakan meditasi 3 hari karena energy alam waktu itu kuat. Tapi karena itu sudah menjadi rencana maka aku harus kungkum mengucapkan mantra Buda Pengayoman 108 kali tiap hari sebelum berangkat  untuk menguarkan energy. Tgl 17 Desember aku berangkat ke Surabaya. Nah begitulah cerita singkat sebelum pergi tour. Sekarang secara singkat akan aku ceritakan perjalanannya.

Tgl. 21 Desember 2007  Jam 5.00 pagi berangkat dari rumah Cicik di Citraland yang diantar oleh Edy adiknya Satria, Kami berangkat berenam, aku, bu Koco, Cicik, Dodo, Rico dan Alek. Sampai di Bandara Cicik yang mengurus semua administrasi kami semua menunggu untuk kemudian perlu tanda tangan surat-surat yang bersangkutan dengan tour. Cicik cekatan sekali ngurusnya, dialah pimpinan tournya, kita harus selalu bergerak cepat dan selalu menuruti komandonya.

Setelah semua barang dan orang-orangnya diperiksa sangat ketat, nggak boleh bawa air atau cairan apa saja seperti kosmetik semuabarang yang dibawa diperiksa, kemudian tas-tas masuk bagasi kami hanya bawa tas-tas kecil. Jam 8.00 kami masuk pesawat melalui gate yang untuk pesawat Catay Pasifik, setelah masuk, ternyata aku sendiri dimasukkan di ruang bisnis yang lebih didepan dari lima lainnya. Yah aku harus praktek berbahasa Inggris sebisanya.

Jam 8.30 pesawat mulai bergerak kemudian kru pesawat member petujuk pemakaian sabuk pengaman dan pelampung. Diruang Bisnis memang lain kursinya besar dan tiap kursi dilengkapi dengan monitor tv  dan meja makan kecik yang dapat ditarik dari tanganan kursi, juga dilengkapi dengan headpone. Jadi masing-masing penumpang dapat memilih cannel yang dikehendaki dan volume yang dikehendaki semua petunjuk ada di tanganan kursi.

Jam 9.00 pesawat take off halus sekali aku sangat menikmati setiap gerakkannya. Pertamakali stewardes menawari aku mau baca koran apa dan  aku minta Jawa Pos nah di Jawa Pos itu ternyata ada berita mengenai tour ke Cina nah aku sobek bagian itu untuki sekedar informasi awal. Stewardes

PUJA TRISANDYA

PUJA  TRISANDYA

  1. 1. ASANA

Mantra       :   OM PRASADA STITI SARIRA SIWA                  SUCI NIRMALA YA NAMAH SWAHA.

  1. 2. KARA SODDHANA

Mantra       :    OM SODDHA MAM SWAHA                        OM ATI SODDHA MAM SWAHA

  1. 3. PRANAYAMA

Mantra :    Om Ang namah   (tarik nafas),Om Ung namah   (tahan nafas),   Om Mang namah (hembuskan nafas)

PUJA TRISANDYA

  • OM   OM    OM

Om Bhur Bhuah Swah,   Tat savitur warenyam

Bhargo devasya dimahi, Dhiyo yo nah prachodayat

Om Narayana evedam sarvam,  yad bhutam yac cabhawyam niskalangko niranjano nirvikalpo, nirakyatah suddho Dewo eko  Narayana nadwityo asti kaccit

Om twam Civa twam Mahadewa, Iswarah Parameswarah Brahma Wisnuca Rudraca,  Purusah Parikirtitah

Om papoham papakarmaham, Papadma papasambhawah Trahi mam pundarikaksa, Sabahyabyantara sucih

Om Ksamaswa mam Mahadewa  Sarwa prani hitangkara

Mam mocca sarwa papebyah,    Palayaswa   Sadaciwah

Om Ksantawya kayika dosahKsantawya wacika mama Ksantawya manasa dosah, Tat pramadat ksama swa mam

Om Santi  Santi  Santi

PUJA TRISANDYA  dalam Bahasa  Jawa

  • Om   Om  Om

Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwasai Triloka (Bhur, Bhuah, Swah loka ).Ingkang acahya cumlorong pinuji

Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos, Anugrahana kawula ambuka cahya Paduka, Sumunar Maha suci  ing budi manah kawula.

  • Duh Gusti kawula puja Paduka,

saestunipun sadaya punika ingkang sampun wonten,

ingkang bade wonten naming saking Narayana  (dasaring sadaya wonten)

  • Duh Pangeran Tunggal,

datan wonten sanes Pangeran  ingkang Suci, mboten kalahiraken, Ingkang wonten sakjawining pepeteng, Mboten kasad mripat.

  • Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah,

Inggih Mahadewa, Iswarah, Parameswarah, Brahma,  lan Wisnu saha Rudra Tuking sadaya gesang, bibitipun sadaya dumados

  • Duh Gusti kawula tiang dosa,

Sadaya pandamel kawula nestapa Jiwatman kawula nestapa, dosa wiwit dumados

Duh Gusti Pangeran Siwah, paringana pitulung, Angayomi anuccekaken jiwa raga kawula

  • Duh Hyang Maha Agung

mugi paring pangaksama, sadaya titah gesang, kabegjakna sirna sadaya dosanipun Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring Pangayoman.

  • Duh Gusti ingapuntena dosa kawula

ingkang saking tindak tanduk,

ingapuntena wicara kawula

ingapuntena dosa ing memanahan kawula

kawula nyuwun pangaksama anggen kawula weya

lan sembrana

Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut

Tentrem

Duh Gusti mugi tentrem ing salajengipun.

BAB  I

PENDAHULUAN

A.   Pengertian Evaluasi dan Evaluasi Pendidikan

  1. 1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi dari akar kata value (bhs. Inggris)  yang artinya nilai. Evaluasi  artinya  penilaian  adalah proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

2.   Pengertian Evaluasi Pendidikan

Lembaga Administrasi Negara memberi batasan mengenai Evaluasi Pendidikan sebagai berikut

  1. Proses/ kegiatanuntuk menentukan kemanjuan pendidikan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan
  2. Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan.

BAGAN TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN

B.   Hubungan antara Penilaian dan Pengukuran

Pengukuran banyak bersifat kuantitatif dengan memakai dasar ukuran tertentu hal ini dapat dibedakan 3 macam :

(1)    Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu  contoh penjahir  mengukur panjang lengan.

(2)    Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu contoh menguji daya tahan per baja terhadap tekanan berat.

(3)    Pengukuran untuk menilai yang dilakukan dengan jalan menguji sesuatu contoh mengukur kemajuan belajar peserta didik.

Penilaian berarti mengambil keputusan  terhadap sesuatu dengan berdasarkan ukuran baik buruk, pandai atau bodoh. Jadi penilaian bersifat kualitatif. Istilah penilaian lebih luas  dari pada pengukuran

C.   Perbedaan Penilaian dan Penelitian

Penilaian

  • Dasar berpijaknya  : pada tolok ukur tertentu
  • Tujuan bukan meneemukan dalil atau teori atau menarik kesimpulan yang bersifat umum, tetapiuntuk menentukan nilai berdasar tolok ikur tertentu
  • Tema : melakukan pengukuran, memberikan interpretasi terhadap data (hasil pengukuran), mengambil keputusan sebagai tindakan penilaian.

Penelitian

  • Belum tentu berdasar criteria tertentu
  • Tujuan menemukan dalil atau teori atau menarik kesimpulan berlaku umum
  • Tema ; melakukan pengukuran untuk menemukan dalil atau teori, membuat prediksi (dari hasil kesimpulan).

D.   Fungsi Evaluasi Pendidikan

  1. Secara umum
  1. Mengukur kemajuan
  2. Menunjang Penyusunan Rencana
  3. c. Memperbaiki/menyempurnakan kembali

  1. Secara khusus
  1. Secara psykologis
  • Bagi peserta didik  :  mengenal kapasitas dirinya
  • Bagi pendidik         :  Kepastian tentang hasil usahanya

  1. Secara Didaktik
  • Bagi pesertas didik :   dorongan perbaikan dan peningkatan prestasi
  • Bagi pendidik  :

–          Fungsi diagnostic : memeriksa bagian mana kesilitan peserta didik

–          Fungsi penempatan : posisi peserta didik dalam kelompoknya

–          Fungsi selektif :  untuk menetapkan status peserta didik

–          Fungsi Bimbingan : memberi petunjuk cara belajar

–          Fungsi intruksional : untuk menentukan hasil yang akan dicapai

c.   Secara Administratif

  • Memberi laporan
  • Memberikan data
  • Memberikan gambaran

BAGAN TENTANG FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN

E.  Tujuan Evaluasi Pendidikan

1.  Tujuan umum

    1. Menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan bukti mengenai taraf perkembangan atau kemajuan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu
    2. Mengetahui tingkat efektifitas dari metode-metode pengajaran untuk proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu

2.  Tujuan Khusus

    1. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan
    2. Untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidak berhasilan peserta didik mengikuti program pendidikan sehingga dapat dicari jalan keluar untuk perbaikannya.

F.   Kegunaan Evaluasi Pendidikan

  • Terbuka kemungkinan memperoleh informasi tentang hasil yang telah dicapai.
  • Terbuka kemungkinan mengetahui relevansi program pendidikan dengan tujuan
  • yang hendak dicapai
  • Terbuka kemungkianan melakukan usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan program

G.   Klasifikasi Evaluasi Pendidikan

1.   Klasifikasi  evaluasi pendidikan dengan berdasar  fungsi

Evaluasi pendidikan dalam rangka memenuhi kebutuhan psykologis

–   Evaluasi pendidikan dalam rangka memenuhi kebutuhan didaktik

–   Evaluasi pendidikan dalam rangka memenuhi kebutuhan administratif

2.   Klasifikasi Evaluasi Pendidikan dengan berdasar informasi (data)

  • Berdasar banyak orang yang terlibat mengambil keputusan

–          Evaluasi pendidikan  yang bersifat indifidual

–          Evaluasi Pendidikan yang bersifat institusional

  • Berdasar macam keputusan

–          Evaluasi Pendidikan yang bersifat didaktik

–          Evaluasi pendidikan yang bersifat Bimbingan

–          Evaluasi pendidikanbersifat administrative

–          Evaluasi pendidikan yang berkaitan dengan riset

3.   Klasifikasi Evaluasi Pendidikan berdasar  pertanyaan dimana/ bagian mana

Evaluasi  diadakan

  • Evaluasi formatif
  • Evaluasi sumatif

BAGAN TENTANG KLASIFIKASI EVALUASI PENDIDIKAN

H.  Obyek (Sasaran) Evaluasi Pendidikan

Ditilik dari input meliputi  3 aspek :

  • Aspek kemampuan peserta didik dengan menggunakan tes kemampuan (aptitude test)
  • Aspek kepribadian peserta didik dengan menggunakan tes kepribadian (personality test)
  • Aspek sikap  dengan menggunakan skala sikap atau (attitude test)

Ditilik dari segi transformasi, obyek meliputi :

  • kurikulum atau materi pelajaran
  • metode mengajar dan teknik penilaian
  • sarana atau media pendidikan
  • system administrasi
  • guru dan personal lainnya yang terlibat dalam proses pendidikan

I   Subyek (Pelaku) Evaluasi Pendidikan

Apabila sasaran evaluasi adalah prestasi belajar maka subyek evaluasinya adalah guru atau dosen yang memberi mata pelajaran tersebutApabila  sasaran evaluasinya sikap peserta didik maka subyek evaluasimnya adalah petugas yang telah diberi pelatihan untuk tes sikap.Apabila sasaran evaluasinya kepribadian peserta didik maka subyek evaluasinya adalah psykolog

J.   Ruang Lingkup (Scope) Evaluasi Pendidikan di Sekolah

Ruang lingkup evaluasi pendidikan di sekolah mencakup 3 komponen :

1.Evaluasi mengenai program pengajaran

    1. evaluasi terhadap tujuan pengajaran
    2. evaluasi terhadap isi program pengajaran
    3. evaluasi terhadap strategi belajar mengajar

2.Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran

  • Kesesuaian antara proses belajar mengajar yang berlangsung dengan garis-garis besar program pengajaran yang ditentukan
  • Kesiapan guru dalam melaksanakan program pengajaran
  • Kesiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
  • Minat atau perhatian siswa  didalam mengikuti pelajaran
  • Keaktifan atau partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung
  • Peranan bimbingan dan penyuluhan
  • Komunikasi dua arah antar guru dengan murid
  • Pemberian dorongan atau motivasi terhadap siswa
  • Pemberian tugas-tugas pada siswa dalam rangka penerapan  teori yang diperoleh didalam kelas
  • Upaya menghilangkan dampak negatitif dari proses pembelajaran
  1. Evaluasi mengenai hasil belajar
    1. Evaluasi  tingkat penguasaan terhadap tujuan khusus yang ingin dicapai
    2. Evaluasi mengenai tingkat pencapaian  terhadap tujuan umum pengajaran

BAB    II

TEKNIK EVALUASI HASIL BELAJAR

A  Prinsip Prinsip Dasar Evaluasi Hasil Belajar

1. Prinsip keseluruhan

Prinsip keseluruhan juga dikenal dengan prinsip koprehensif maksudnya evaluasi hasil  belajar terlaksana bila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh dan menyeluruh. Dalam hubungan ini perlu evaluasi yang mengungkap aspek proses berpikir ( cognitive domain),  aspek sikap (affective domain) dan aspek ketrampilan (psychomotor domain).

Evaluasi ini berguna untuk memperoleh informasi lengkap  mengenai keadaan dan perkembangan peserta didik.

2.  Prinsip kesinambungan

Prinsip kesinambungan atau kontinuitas ini maksudnya evaluasi dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu. Pelaksanaannya  teratur terencana  dan terjadwal.

Evaluasi ini diambil untuk merumuskan  kebijakan-kebijakan  yang berguna bagi masa yang akan datang

3.   Prinsip Obyektifitas

Prinsip obyektifitas ini  mengandung makna bawa evaluasi dapat dikatakan baik bila dapat terlepas dari factor-faktor  yang sifatnya subyektif. Evaluasi ini dilakukan agar memperoleh hasil evaluasi yang murni.

B.   Ciri –Ciri Evaluasi Hasil Belajar

1.  Pengukuran yang tidak langsung

Pengukurannya dilihat dari gejala (fenomena) yang tampak atau memancar dari

kepandaian yang dimiliki peserta didik

Indikator yang menjadi tolok ukur peserta didik dikatakan “pandai” ialah :

    1. kemampuan bekerja dengan angka-angka
    2. kemampuan menggunakan bahasa
    3. kemampuan menangkap sesuatu yang baru
    4. kemampuan mengingat-ingat
    5. kemampuan untuk berfantasi atau berpikir abstrak

2.   Pengukuran kuantitatif atau menggunakan symbol-simbol angka

Hasil pengukuran yang berupa angka selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode statistikuntuk pada akhirnya diberi interpretasi secara kualitatif

3.   Kegiatan evaluasi hasil belajar umumnya digunakan unit-unit satuan yang tetap

Kegiatan ini dilakukan  mengingat adanya populasi peserta didik yang heterogen, baik jenis kelamin, asal, latar belakang status social ekonomis orang tuanya, lingkungan social dll.

4.   Prestasi belajar yang dicapai peserta didik umumnya  bersifat relatif

Hasil-hasil evaluasi terhadap keberhasilan belajar peserta didik tidak selalu menunjukkan kesamaan atau tidak ajeg. Jadi  evaluasi terhadap subyek yang sama pada tahap pertama belum tentu sama dengan hasil evaluasi  tahap berikutnya.

5.    Kegiatan evaluasi  sulit menghindarkan  adanya kekliruan

Matrik tentang sumber penyebab, latar belakang dan jenis kekliruan dalam

Pengukuran hasil belajar

Sumber  terjadinya error Latar belakang terjadinya error Jenis error
Alat evaluasi (alat pengukur) Hasil belajar (tes) Butir-butir yang dikeluarkan dari tes tidak mencerminkan atau tidak merupakan wakil yang representative dari keseluruhan bahan pelajaran yang seharusnya diteskan Sampling error
Evaluator (tester) Evaluator (tester) bertindak kurang teliti atu kurang cermat dalam perhitungan angka-angka (skor)

Suasana batin yang menyelimuti diri evaluator : resah, susah, murung dll.

Sifat pemurah atau sifat pelit yang melekat pada diri evaluator (tester)

Evaluator terpengaruh oleh hasil-hasil penilaian yang diberikan teman sejawatnya

Evaluator terpengaruh oleh hasil-hasil tes yang dicapai oleh peserta didik pada waktu yang lalu

Scorong Error dan Ranking Error
Peserta didik peserta tes Peserta tes bermain tebak terka(spekulasi) dan melakukan kerja sama tidak sehat dalam mengerjakan tes

Kondisi psykis dan nasib sial yang menimpa testee pada saat berlangsungnya tes

Guesting error

Scoring error

Situasi Testing Suasana gaduh, kacau atau bising, pengawasan tes terlalu ketat atau terlalu longgar Skoring error

C.   Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psykomotor sebaga Obyek Evaluasi

Hasil Belajar

1.   Ranah kognitif  = pengertian

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Menurut Bloom segala upaya yang menyangkut aktifitas otak termasuk ranah kognitif. Ranah kognitif ini terdapat jenjang proses berpikir mulaai terendah sampai jenjang yang paling tinggi.

Kenam jenjang ini ialah :

(1)                        Pengetahuan/hapalan/ingatan (Knowledge)

(2)                        Pemahaman (comprehension)

(3)                        Penerapan  (Aplication)

(4)                        Analisis/penguraian (Analysis)

(5)                        Sintesis /penyimpilan (Synthesis)

(6)                        Penilaian (Evaluation)

Pengetahuan ini maksudnya kemampuan mengetahui, mengingat, ini kemampuan berpikir yang paling rendah.

Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu setelah diketahui, hal ini dapat ditandahi seseorang menjelaskan kembali apa yang diketahui.

Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk merepkan atau menggunakan pengetahuan yang  dimilikinya seperti dalil. Teori, rumus dll.

Analisis atau penguraian adalah kemampuan seseorang untuk memerinci apa yang telah diketahui, dipahami, dan mampu memahami bagian-bagian atau factor-faktor yang satu dengan yang lainnya.

Sintesis adalah kemampuan berpikir  seseorang untuk memadukan kembali bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, atau  menyimpulkan sesuatu uraian.

Penilaian atau evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk membuat suatu pertimbanganterhadap suatu situasi, nilai  atau ide mampu memilih mana yang lebih penting, mana yang lebih benar. Ini kemampuan berpikir yang paling tinggi.

2.  Ranah Afektif = sikap

Ranah afektif ini ranah yang berkaitan sengan sikap atau nilai . Ranah ini berkembang sesuai dengan perkembangan kognitifnya.

Ranah kognitif dirinci dalam lima jenjang :

(1)                                                      Receiving  = menerima

(2)                                                      Responding =  tanggapan

(3)                                                      Valuing  = penilaian

(4)                                                      Organization = mengorganisir

(5)                                                      Charakterization  = mempribadi/memiliki pendirian

Receiving  atau attending (menerima atau memperhatikan) adalah kepekaan seseorang  dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepadanya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dll.  Receiving sering diartikan kemampuan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu obyek. Misalnya seseorang menerima petaturan yang telah disepakati bersama.

Responding  (menanggapi) adalah kemampuan untuk mau berpertisipasi aktif dalam suatu fenomena tertentu, kemampuan untuk mau mempelajari lebih jauh.

Valuing (menilai=menghargai) artinya kemampuan untuk menilai atau memberi penghargaan terhadap suatu obyek, sehingga cirinya seseorang akan melakukan sesuatu yang sudah dinilai baik dan benar.

Organization (mengatur diri atau mengorganisir diri) adalah kemampuan seseorang  untuk dapat mengatur diri sesudah dari pikiran menilai dan dikembangkan dalam kemauan untuk dapat mengatur dirinya dalam system organisasi, sehingga nantinya akan bertindak sesuai dengan tujuan yang jelas, program yang jelas dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan.

Characterization  by a value or value complex  Karakterisasi dengan suatu nilai atau komleks nilai) yaitu keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki seseorang  yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Ini ada proses internalisasi nilai, seseorang menjadi berkepribadian , memiliki pendirian yang teguh dan berbobot, ia telah memiliki philosophi of life yang mapan.

3.   Ranah Psykomotor = perilaku

Ranah psykomotor adalah ranah yang berkaitan dengan ketramilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.

Kemampuan yang dicerminkan dalam ranah ini seseorang sudah mampu bertindak sesuai kebenaran dan kebaikan dan malah menjadi penganjur untuk berbuat yang baik dan benar, dan ini hasil  dari kemampuan kognitif dan kemampuan afektif. Secara jelasnya seserrang sudah memiliki  pengertian  dan dapat mengambil sikap yang baik maka kemudian dia mamiliki kemampuan ketrampilan dalam berbuat sesuatu (skill)  bila skill nya banyak dia mampu hidup dimanapun dan kapanpun (memiliki life skill

D,  Langkah-Langkah Pokok Dalam Evaluasi Hasil belajar

1.   Menyusun rencana evaluasi hasil belajar

Perencanaan meliputi 6 kegiatan :

  • Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi
  • Menetapkan aspek-aspek yang akn dievaluasi
  • Memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan dalam pelaksanaan evaluasi.
  • Menyusun alat pengukur yang akan digunakan dalam evaluasi
  • Menentukan tolok ukur, norma atau criteria
  • Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar.

2. Menghimpun data

Wujud nyata dari menghimpun data ialah melakukan tes. Bila dengan nontes dilakukan dengan pengamatan, wawancara atau pengisian angket

3.   Melakukan verifikasi data

Data yang telah berhasil dihimpun  harus disaring lebih dulu. Proses penyaringan ini dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Hal ini dilakukan untuk memilah mana data yang baik mana yang tidak yang dapat memperjelas pelaksanaan evaluasi hasil belajar.

4.   Mengolah dan menganalisis data

Pengolahan dan meganalisis data dengan menggunakan teknik statistic atau non statistic tergantung jenis data yang akan diolah atau dianalisis.

5.   Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

Penafsiran atau interpretasi terhadap hasil evaluasi belajar hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan atau penganalisisan itu.

6.   Tindak lanjut  hasil evaluasi

Setelah data hasil evaluasi disusun, siatur, diolah, dianalisis dan sisimpulkan, dan dapat diketahui makna yang terkandung didalamnya maka kemudian evaluator harus mengambil  keputusan sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut.

E.  Teknik-Teknik Evaluasi Hsil Belajar di Sekolah

Istilah teknik ini terkandung arti alat-alat yang dipergunakan dalam melakukan evaluasi hasil belajar, yaitu tes dan non tes (contoh pengamatan/wawancara).

BAB   III

TEKNIK TES DAN TEKNIK NONTES

SEBAGAI ALAT EVALUASI HASIL BELAJAR

A.   Teknik Tes

1.    Pengertian Tes

Kata tes berasal dari bahasa Perancis Kuno “testum” dengan arti piring yang dipakai untuk menyisihkan logam-logam mulia (penggunaan piring ini agar dapat memilih jenis logam mulia yang nilainya sangat tinggi ). Dalam Bahasa Inggris ditulis “test” dan dalam bahasa Indonesia dengan “tes” yang diterjemahkan dengan “ujian” atau “ percobaan”.

Beberapa istilah yang perlu diketahui :

–  Test  :  alat atau prosedur  yang dipergunakan dalam rangka pengukuran atau penilaian.

–  Testing :  saat dilaksanakannya atau peristiwa berlangsungnya pengukuran atau

penialian

–  Tester    :  orang yang melaksanakan tes atau eksperimen

–  Testee(tunggal} atau testees (jamak)  : pihak yang sedang dikenai tes  (peserta

tes/peserta ujian) atau pihak yang dikenai percobaan.

Beberapa pendapat mengenai “tes” dari para ahli :

  • Menurut Anne Anastasi dalam karyanya yang berjudul Psychological Testing menyebutkan bahwa “tews” adalah alat pengukur yang mempunyai standar obyektif sehingga dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.
  • Menurut Lee J. Cronbach dalam bukunya yang berjudul Essential of Psychological Testing, “tes”  merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan tingkah laku dua orang atau lebih.
  • Menurut F.L. Goodenough, “tes”  adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu  dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka satu dengan yang lain
  1. Fungsi tes

Secara umum ada dua macam fungsi  tes yaitu :

  1. Sebagai alat pengukur terhadap pesert didik. Tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta sisik setelah menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
  2. Sebagai alat pengukur keberhasilan peogram pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai
  1. Penggolongan tes

Sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan dengan alasan penggolongan tes dilakukan :

  1. a. Berdasar fungsai tes sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik.
  • Tes Seleksi  =  Tes Saringan = “Ujian Masuk”  Tes ini diadakan  sebagai syarat untuk penerimaan siswa baru, bila hasil tes memenuhi batas presyaratan maka dapat lulus dan diterima sebagai siswa baru.
  • Tes Awal     =   Pre-test  Tes ini diadakan untuk mengetahui sejauh mana bahan yang akan diajarkan pada siswa telah dikuasai oleh siswa. Materi yang sekiranya sudah dikuasai siswa maka tidak akan diajarkan lagi.
  • Tes Akhir    =   Post-test Tujuan diadakan tes ini untuk mapakah materi yang telah diajarkan  sudah dapat dikuasai oleh peserta didik.
  • Tes Diagnostik  =  tes yang dilakukan untuk mengetahui jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu.
  • Tes formatif  =   adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran (sesuai dengan tujuan pengajaran yang ditentukan) biasanya dilakukan dalam pertengahan program pengajaran, bila tes tidak memuaskan perlu diulangi pembelajarannya.
  • Tes Sumatif =   tes yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program                     pengajaran selesai diberikan. Biasanya diberi istilah Ulangan Umum atau EBTA  = Evaluasi Belajar Tahap Akhir. Hal ini dilakukan untuk mengisi rapor atau mengisi ijazah (STTB). Tes ini dilakukan secara tertulis. Tujuan tes ini untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah  menempuh proses pembelajaran jangka waktu tertentu.

  1. b. Penggolongan berdasarkan Aspek psikis yang ingin diungkap
  • Tes intelegensi (intellegency test)  yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang
  • Tes kemampuan (aptitude test)  yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus  yang dimiliki testee.
  • Tes sikap (attitude test)  tes untuk mengungkap predisposisi Tu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.
  • Tes kepribadian (personality test)  yaitu tes dengan  tujuan mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan dan lain-lain.
  • Tes hasil belajar atau tes pencapaian (achievement test)  yaitu tes untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar.
  1. c. Penggolongan lain

Ditilik dari segi banyaknya yang mengikuti tes :

  • Tes individual (individual test) yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan seorang testee untuk menyelesaikan tes tersebut.
  • Tes kelompok (group test) yakni tes dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu testee

Ditilik dari segi waktu untuk menyelesaikan tes :

  • Power test yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee menyelesaikantidak dibatasi.
  • Speed test yakni tes di mana waktu waktu yang disediakan testee untuk menyelesaikan tes dibatasi.

Ditilik dari segi bentuk responnya :

  • Verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis.
  • Nonverbal test yakni tes yang menghendaki respon (jawaban)  dari testee buka berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindkan atau tingkah laku, jadi respon yang dikehendaki muncul daari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.

Ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan dan cara memberi jawaban :

  • Tes tertulis (pescil and paper test) yakni tes di mana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan  dilakukan secara tertulis dan testee memberi jawaban juga secara tertulis.
  • Tes lisan (nonpencil and paper test)  yakni tes di mana tester didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya silakukan secara lisan, dan testee memberikan jawabannya secara lisan pula.
  1. Teknik Non Tes
  1. Pengamatan (Observasi)
  • Pengertian  : observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (=data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan cacaran pengamatan.
  • Penggunaan :  untuk menilai tingkah laku atau proses terjadinyasuatu kegiatan yang dapat diamati
  • Manfaat  : mengukur atau menilai hasil dan proses belajar

Observasi dapat dilakukan secara :

  • Partisipasif (partisipant observation)
  • Nonpartisipasif (nonpartisipant observation)
  • Eksperimental (experimental  observation)
  • Noneksperimantal (non experimental observation)
  • Sistematif (sistematik observation)

Penilaian atau ebaluasi hasil belajar yang dilaksanakan dengan melakukan observasi itu disamping memiliki kebaikan juga ada kekuarangannya.

Kebaikan yang dimiliki oleh observasi ialah ;

    1. Data observasi itu diperoleh secara langsung dilapangan yakni dengan jalan melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik dalam melakukan sesuatu  sehingga lebih obyektif dalam melukiskan aspek kepribadian peserta didik senyatanya.
    2. Data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu peserta didik maka pengolahannya tidak hanya menekankan segi kecakapan saja.

Kekuarangan observasi ialah :

  1. Guru yang tidak atau kurang memiliki kecakapan atau ketrampilan dalam melakukan observasi maka hasil observasinya kurang dapat diyakini kebenarannya.
  2. Kepribadian (personality) dari observer atau evaluator juga acapkali mewarnai atau menyelinap masuk dalam penilaian yang dilakukan  dengan cara observasi. Prasangka-prasangka observer dapat mengakibatkan sulit dipisahkannya secara tegas tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
  3. Data yang diperoleh dari observasi umumnya hanya “kulit luar” nya saja.

  1. Wawancara (Interview)
  • Pengertian : wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab  lisan secara sepihak, berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan
  • Jenis wawancara :
    1. wawancara terpimpin (guided interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur atau wawancara sistematis.
    2. Wawancara tidak terpimpin (un guided interview ) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non sistematik interview) atau wawancara bebas.

Wawancara terpimpin ini semua sudah dipersiapkan  yang itemnya terdiri dari hal yang mengungkap kebiasaan sehari-hari, yang disukai dan yang tidak disukai keinginan maupun cita-citanya, cara belajar, penggunaan waktu luang dsb.

Kelebihan wawancara adalah pewawancara sebagai evaluator kontak langsung dengan perserta didik yang akan dinilai sehingga dapat diperoleh penilaian yang lengkap  dan mendalam. Peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya secara bebas.Data yang diperoleh dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif.

Dalam wawancara bebas diberi alat Bantu tape recorder (perekam suara) sehingga jawaban dapat dicatat secara lengkap

  1. Angket  (questioner)
  • Pengertian : Angket adalahalat bantu dalam penilaian hasil belajar dengan menghimpun data yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh pesertadidik dalam mengikuti pelajaran, cara belajar, fasilitas belajar,motivasi dll.
  • Penggunaan  ; untuk memperoleh data latar belakang peserta didik  sebagai salah satu  bahan menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka, disamping itu juga untuk menyusun kurikulum dan program pembelajaran.
  • Kuestioner sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif, bentuknya dapat pilihan ganda atau skala sikap.
  • Kuestioner juga dapat untuk mengungkap data dari orang tua peserta didik yang mungkin suatu saat diperlukan.

  1. Pemeriksaan Dokumen
  • Pengertian : Pemeriksaaan Dokumen adalah cara memperkaya evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik.
  • Dokumen yang perlu diperiksa misalnya :  dokumen yang memuat riwayat hidup tempat/tanggal lahir peserta didik, agama yang dianut, kedudukan sebagai anak dalam keluarga, kapan diterima sebagai siswa, kejuaraan yang diperoleh, pernah atau tidak menderita penyakit serius. Juga informasi mengenai orang tua peserta didik, nama pekerjaan, penghasilan per bulan, lingkungan non social (rumah, penerangan dll.)

BAB  IV

TEKNIK PENYUSUNAN DAN

PELAKSANAAN TES HASIL BELAJAR

A.  Ciri  Tes Hasil Belajar yang Baik

Tes hasil bekajar dapat dikatakan baik bila memiliki ciri :

  1. Tes hasil belajar harus bersifat valid atau memiliki validitas  (valid = tepat, benar, absah.)
  2. Tes hasil belajar harus memiliki reliabilitas (atau sering disebut keajekan atau stabilitas)
  3. Tes hasil belajar harus bersifat obyektif
  4. Tes hasil belajar harus praktis
  1. B. Prinsip-Prinsip  Dasar dalam Penyusunan Tes Hasil Belajar

Ada beberapa prinsip dasar :

1. Tes hasil belajar harus dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.

2.  Butir-butir Tes Hasil Belajar harus merupakan sample yang representative dari populasi bahan pelajaran yang telah diajarkan, sehingga dapat mewakili seluruh performance yang telah diperoleh selama peserta didik mengikuti suatu unit pengajaran.

3.  Bentuk soal harus bervariasi sehingga betul-betul cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan, sesuai dengan tujuan tes itu sendiri.

4.  Tes Hasil Belajar harus didisain sesuai dengan kegunaan yang dimiliki oleh masing-masing jenis tes.

5. Tes Hasil Belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan, artinya setelah tes itu dilaksanakan berkali-kali terhadap subyek  yang sama hasilnya selalu sama atau relative sama.

6.   Tes Hasil Belajar disamping alat pengukur keberhasilan belajar juga harus dijadikan alat mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki belajar dan cara mngejar guru.

C.   Bentuk-Bentuk Tes Hasil Belajar dan Teknik Penyusunannya.

Bentuk tes hasil belajar ada 2 macam :

1.  Tes Hasil Belajar Bentuk Uraia

a.   Pengertian

Tes Uraian (essay test) = subyektif test  adalah salah satu bentu tes yang memiliki karakteristik sebagaimana dikemukakan sbb.:

  • Bentuk Tes tersebut  pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang panjang
  • bentuk-bentuk pertanyaan atau perintah itu menuntut testee memberi penjelasan, komentar, penafsiran, membandingkan, membedakan dll.
  • Jumlah butir soal umumnya terbatas (lima sampai sepuluh soal)
  • Umumnya soal doawali kata-kata;“Jelaskan….”.“Terangkan….” Mengapa ….”dll

b.   Penggolongan Tes Uraian

Tes Uraian dapat dibedakan menjadi dua golongan

*   Tes uraian bentuk terbuka :   adalah ter uraian yang jawaban sepenuhnya diserahkan pada testee,  testee diberi kebebasan menyajikan jawaban

Contoh soal :

Beri contoh  pelaksanaan Tri Kaya Parisudha  untuk wacika !

*    Tes uraian bentuk terbatas  :  adalah jawaban yang dikehendaki muncul dari testee adalah jawaban yang sifatnya sudah terarah

Contoh soal :

Jelaskan pelaksanaan Yajna Nyepi !

c.   Ketepatan Penggunaan Tes Uraian

Tes hasil belajar bentuk uraian  sebagai alat pengukur hasil belajar tepat dipergunakan apabila pembuat soal disamping ingin mengungkap daya ingat dan pemahaman testee terhadap materi pelajaran  juga mengungkap kemampuan testee dalam memahami konsep dan aplikasinya. Kecuali itu tes ini tepa bilajumlah testee terbatas.

d.  Segi-segai Kebaikan dan Kelemahan Tes Uraia

Kebaikan Tes Uraian :

  • Pembuatannya dapat cepat dan musah
  • Dengan tes uraian ini dapat dicegah timbulnya permainan spekulasi
  • Dengan tes ini akan dapat diukur seberapa jauh pemahaman testee pada materi
  • Testee kemudian terbiasaa mengungkapkan pendapat

Kelemahan Tes Uraian :

  • Tes uraian umumnya kurang menampung isi dan luasnya materi pelajaran
  • Cara mengkoreksi cukup sulit dengan jawaban yang bervariasi
  • Cara memberi skor sering lebih bersifat subyektif
  • Koreksi sulit diserahkan pada orang lain
  • Daya ketepatan dan dayakeajekan mengukur (reliabilitas) rendahhingga kurang valid untuk alat pengukur keberhasilan belajar.

e.  Petunjuk Operational dalam Penyusunan Tes Uraian.

Pedoman dalam menusun butir-butir tes uraian

  • Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian sejauh mungkin agar mencakup ide-ide pokok dari materi yang telah diajarkan.
  • Untuk menghindari perbuatan curang oleh testee (nyontek) hendaknya agar susunan kalimat lain dengan yang ada dibuku pelajaran.
  • Setelah menyusun soal tes hendaknyajawaban dirumuskan secara tegas yang dikehendaki tester.
  • Dalam menyusun soal tes hendaknya agar pertanyaan atau perintah-perintah jangan dibuat seragam (harus bervariasi).
  • Soal supaya disusun secara ringkas, padat dan jelas, sehingga mudah dipahami oleh testee
  • Hendaknya dibuat juga pedoman tentang cara mengerjakan

Misalnya : “Jawaban soal hanya dituliskan diatas lembar jawab dengan berdasarkan nomor urut ….”

2.   Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif  (Obyektif Test)

a.  Pengertian

Tes obyektif = tes jawaban pendek tes ya atau tidak atau tes model baru adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items) yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu atau lebih  diantara beberapa kemungkinan jawaban  yang telah dipasangkan pada masing-masing items atau dengan mengisikan  jawabannya berupa kata-kata atau symbol-simbol  tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan.

b.   Penggolongan Tes Obyektif

1)  Tes Obyektif Bentuk Benar Salah (True-False Test)

2)  Tes Obyektif Bentuk Menjodohkan (Matching Test)

3)   Tes Obyektif Bentuk Melengkapi (Completion Test)

4)   Tes Obyektif Bentuk Isian (Fill in Test)

5)   Tes Obyektif Bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choise Item Test)

1)   Tes Obyektif Bentuk Benar Salah

Tes Obyektif Benar Salah ini adalah salah satu bentuk tes obyektif dimana butir-butir soal yang diajukan dalam tes hasil belajar itu berupa pernyataan atau Statement) pernyataan mana ada yang benar dan ada yang salah. Testee hanya membubuhkan tanda (symbol) B  bila benar dan salah..

2)   Tes Obyektif bentukMenjodohkan

Tes Obyektif Bentuk Menjodohkan dikenal pula = tes mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan atau tes mempertandingkan

Ciri tes ini :  a) tes terdiri dari satu seri pertanyaan dan sati seri jawaban.

b) Tugar Testee mencarijawaban yang tersedia yang cocok.

3).  Tes Obyektif Bentuk Melengkapi

Tes Obyektif bentuk melengkapi = tes menyempurnakan dengan cirri-ciri :

a)      Te situ terdiri atas susunan kalimat yangbagiannya dihilangkan

b)      Bagian yang dihilangkan diganti dengan titik-titik

c)      Titik-tik harus diisi atau dilengkapi  dengan jawaban

4)   Tes Obyektif Bentik Isian

Tes Obyektif Bentuk Isiian ini biasanya berbentuk cerita atau karangan. Kata-kata penting dalam karangan diantaranya dikosongkan sedang tugas testee adalah mengisi bagian yang telah dikosongkan itu.

5) Tes Obyektif  Bentuk  Pilihan Ganda

Tes Obyektif Pilihan Ganda yaitu salah satu bentuk tes yang terdiri atas pertanyaan atau pernyataan  yang sifatnya belum selesai dan untuk mnyelesaiakan harus dipilih salah satu (atau lebih) dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan pada tiap-tiap butir soal yang bersangkutan

c.  Ketepatan Penggunaan Tes Obyektif

Tes Obyektif tepat apabila :

1)   Peserta tes cukup banyak

2)   Penyusun tes cukup pengalaman dalam menyusun tes obyektif

3)   Penyusun tes punya waktu cukup untuk menyusun tes.

4)   Penyusun tes harus memikirkan bahwa soal tes itu mungkin digunakan lagi

5)   Penyusun tes harus yakin betul mengenai kualitas butir-butir soal

6)   Penyusun tes harus yakin mengenai soal  benar dan salah

d.   Segi-segi Kebaikan dan kelembahan Tes Obyektif

Keunggulan :

1)                                            Tes obyektif sifatnya lebih representative dalam hal mencakup dan mewakili materi yang telah diajarkan

2) Tes obyektif lebih memungkinkan tester lebih obyektif baik mengkoreksi maupun menentukan skor.

3) Mengkoreksi lebih mudah dan cepat selesai

4) Lebih memungkinkan dikoreksi oleh orang lain tidak hanya tester

5) Butir-butir soal tes obyektif mudah dianalisis baik segi kesukaran maupun daya pembedanyanya.

Kelemahan  :

1)      Menyusun tes Obyektif lebih sukar  atau bukan pekerjaan yang ringan

2)      Tes Obyektif kurang dapat mengukur atau mengungkap proses berpikir yang tinggi atau mendalam

3)      Terbukan kemungkinan testee bermain spekulasi (tebak terka, adu untung).

4)      Cara memberikan jawaban soal pada tes obyektif dipergunakan symbol-simbol huruf yang sifatnya seragam seperti A, B, C. D. dan  E atau B dan S sehingga memungkinkan adanya kerjasama yang tidak sehat bagi testee.

e.   Petunjuk Operational Penyusunan Tes Obyektif

1)      Pembuat soal harus sering berlatih

2) Setiap kali alat pengukur tes dipergunakan bila telah selesai harus dilakukan penganalisaan items

3) Sepaya tidak terjadi spekulasi dan kerja sama yang tidak sehat makadipersiapkan dahulu suatu norma yang memperhitungkan factor tebaan.

4) Agar tes obyektif disamping mengungkap aspek ingatan atau hafalan  juga mengungkap aspek berpikir yang lebih mendalam.

5) Istilah yang dipergunakan hendaknya sederhana ringkas dan jelas.

6) Supaya dihindaributir yang menghasilkan penafsiran ganda

7) Usahakan tidak salah ketik apalagi untuk soal-soal eksakta

8) Hrus diberikan pedoman untuk mengerjakan soaL

BAB  V

TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS TES

DAN VALIDITAS ITEM TES HASIL BELAJAR

A.   Teknik Pengujian Validitas tes Hasil belajar

1.   Pengujian Validitas Tes secara Rasional

Tes hasil belajar dianalisa secara rasional  bila ternyata memiliki ketepatan  mengukur maka disebut telah memiliki validitas logika (logical validity) atau validitas rasional.

Validitas rasional diperoleh atas dasar pemikiran atau dengan berpikir logis dan untuk menentukkan valisditas ini maka ditelusuri 2 segi :

a.  Validitas isi  (Content Validity)

Validitas isi ini validitas yang diperoleh dengan menganalisa terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar. Apakah isinya telah mewakili secara representative terhadap keseluruhan bahan pelajaran atau belum.

    1. Validitas konstruksi (Construct Validity)

Validitas  konstruksi maksudnya adalah apabula tes hasil belajar tersebut ditinjau dari susunan, kerangka atau rekaannya telah dapat dengan tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psykologis. Dalam arti sudahkah mencakup ranah  kognitif, afektif dan psykomotor.

Validitas konstruksi ini dapat dilakukan penganalisaannya dengan jalan melakukan pencocokan antara aspek berpikir dengan yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut

2.  Pengujian Validitas Tes Secara Empirik

Validitas empiric adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil aanalisis yang bersifat empiric atau validitas empiric adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan.

Untuk menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empiric atau belum dapat dilakukan penelusuran dari 2 segi

a.   Validitas Ramalan  (Prediktive Validity)

Validitas ramalan adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang.

Contoh : Tes seleksi penerimaan calon mahasiswa adalah tes yang diharapkan mampu meramalkan keberhasilan studi para calon mahasiswa dalam mengikuti program pendidikandi perguruan tinggi tersebut.

    1. Validitas Bandingan Concurrent Validity)

Validitas Bandingan juga sering disebut istilah “validitas sama saat” , “validitas pengalaman” atau “validitas ada sekarang”.

Dikatakan “validitas sama saat” sebab validitas itu ditentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang sama

Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang telah diperoleh.

Dikatakan “validitas ada sekarang”  sebab setiap kali menyebut istilah pengalaman maka istilah itu akan selalu dikaitkan dengan hal yang telah ada atau saat sekarang ini sudah ada ditangan.

Guna tes yang untuk mengetahui ada/tidaknya hubungan yang searah antara tes pertama dengan tes berikutnya

B.  Teknik Pengujian Validitas item Tes Hasil Belajar

1.  Pengertian.

Validitas item suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki sebutir item (yang mewrupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas) dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat item tersebut.

Validitas item ini diperlukan apabila tes hasil belajar validitasnya rendah. Untuk ini para penyusun tes harus “mawas diri” dengan jalan mengadakan penelusuran kembali terhadap tes hasil belajar  alat pengukur  peserta didik.

Penelusuran ini dengan melihat butir item mana yang menyebabkan rendahnya validitas tes tersebut sebagai totalitas.

2.   Teknik Pengujian Validitas Item Tes Hasil Belajar

Sebuah item dapat dikatakan memiliki validitas jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengandengan skor totalnya. Atau dengan bahasa statistic Ada korelasi positif yang signifikan antara skor item denganskor totalnya.

BAGAN TENTANG VALIDITAS TES DAN VALIDITAS ITEM

DAFTAR PUSTAKA

Best, John W. 1982 Metodologi Penelitian Pendidikan terjemahan Sanapiah

Faizal dan Mulyadi Guntur Waseso, Surabaya : Usaha

Nasional

Bloom, Benyamin S. 1956  Taxonomi of Education Obyectives, The

Classification of Educational Obyectives, Handbook 1 :

Cognitive Domain, New York : David Mckay Company

Buchori, Muchtar, 1990 Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, Bandung :

Jemmars

Sudiyono, Anas, 1994  Teknik Evaluasi Pendidikan- Suatu Pengantar (Jilit I & II)

Yogyaakarta : Sumbangsih Offset.

Sudiyono, Anas, 2006  Pengantar Evaluasi Pendidikaan, Jakarta : Divisi Buku

Perguruan Tinggi PT Raja Grafido Persada

Witherington, 1967 Psychology Pendidikan (Terjemahan M Buchori M  ED)

Bandung : Keluarga Bapemsi.

Wandt, Edwin, et.al 1957 Essentials Of Educational Evaluation, New York :

Holt Rinehart and Winston.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: